Perjalanan ke Negeri di Atas Awan

Ini adalah pengalaman pertama saya menulis sebuah cerita perjalanan di akun Tumblr. Ceritanya semua serba mendadak, berawal dari keinginan untuk jalan-jalan ke dataran tinggi Diang yang belum juga terwujud. Saat itu travelmate (teman jalan yang saat itu tinggal di D.I. Yogyakarta) akan berulang tahun di pertengahan bulan September, jadi saya memiliki rencana untuk memberi kejutan yaitu tiba-tiba datang ke Yogya. Hahaha

Akomodasi dari Blitar menuju Yogyakarta relatif mudah, bisa ditempuh dengan berbagai cara salah satunya dengan menggunakan kereta api. Kita bisa membeli tiket kereta api dengan tarif yang paling murah sampai yang paling mahal. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli tiket kereta api Malioboro ekspress kelas ekonomi dengan alasan saya ingin menghemat waktu selama perjalanan karena saya memiliki segudang rencana. *evil laugh*

Sebelum sampai di Yogya, saya memberi tahu travelmate untuk packing. Dia sangat terkejut sampai bingung harus bilang apa. Pukul 3 sore saya tiba di Yogya tapi perjalanan belum cukup sampai di situ. Berdua dengan travelmate mengendarai motor matic dan bekal seadanya kami menuju Wonosobo. Lelah dan lapar menemani perjalanan kami, tapi semuanya hilang begitu kami menjumpai alun-alun Wonosobo. Gerimis dan dingin membuat kami semakin lapar dan akhirnya berhenti di warung tenda dekat alun-alun untuk menyantap nasi goreng dan nasi+ayam goreng. Waktu menunjukkan hampir pukul 9 malam tapi kami belum dapat penginapan, setelah berselancar sebentar di google, kami menginap di hotel Arjuna Wonosobo. Sekilas jika diamati bangunan hotel adalah bangunan tua tapi cukup nyaman untuk tempat beristirahat. Butuh tekad yang besar untuk mandi malam-malam di Wonosobo, airnya sedingin air kulkas. Sangat dingin bagi orang yang biasa tinggal di daerah pesisir pulau Jawa seperti saya.

Keesokan harinya, kami checkout siang hari dan tidak melewatkan kesempatan untuk mencicipi mie ongklok plus tempe kemul khas Wonosobo. Rasanya lezat tapi lebih nikmat jika disantap malam hari, sih. Setelah mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Dieng. Yeay!

Sesampainya di Dieng lagi-lagi kami bingung untuk menginap di mana, mondar-mandir mencari penginapan yang sekiranya ramah dengan kantong kami. Akhirnya menginap di penginapan Flamboyan. Sebelum senja datang, kami memanfaatkan waktu untuk menyambangi Telaga Warna Dieng, Kawah Sikidang dan yang terakhir kompleks Candi Arjuna. 

Hari makin sore hawa dingin makin menjadi, membuat kami tak punya nyali untuk mandi. Kami memutuskan untuk istirahat lebih cepat karena besok pagi ada rencana yang lebih hebat.

Alarm handphone berdering pukul 3 pagi, kami bergegas untuk pergi ke Sikunir. Wajib hukumnya membawa lampu senter dan penghangat badan tambahan seperti syal, sarung tangan atau kupluk. Sempat ragu selama di perjalanan menuju Sikunir antara takut nyasar dan takut dibegal karena saat itu keadaan jalan benar-benar sepi. Untunglah ada beberapa kendaraan yang lewat dan cukup terkejut saat sampai di area parkir, ternyata di sana sudah ramai pengunjung, mungkin karena saat itu weekend.

Kesalahan saya adalah kurang berolahraga sebelum melakukan perjalanan, hiking selama 15 menit membuat nafas saya tersengal-sengal. Tapi perjuangan yang saya lakukan setimpal dengan apa yang saya dapatkan di Puncak Sikunir, Golden Sunrise.

Saya merasa sangat beruntung dan berdoa agar diberi kesempatan untuk melakukan perjalanan lagi, tentunya perjalanan yang tidak kalah menyenangkan. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s