Keping Semangat di Bibir Kawah Bromo

Lega, gembira, dan terharu yang dirasa kala itu, akhirnya berhasil menuntaskan belajarku di bangku kuliah. Inilah hasil perjuanganku selama ini dan ingin mempersembahkannya hanya untuk Bapak dan Ibu. Masih melekat diingatan bagaimana caraku menyemangati diri sendiri saat aku mulai lelah dan ingin menyerah, aku berjanji untuk menghadiahi diriku sendiri setelah merampungkan tugas akhir.

Setelah resmi menyandang sarjana, aku mulai menyusun rencana. Beruntung sekali ada kawan yang bersedia menemani perjalananku kali ini, dia adalah teman satu kelas saat SMP. Musim hujan yang belum berganti tak membuat kami ragu untuk pergi ke kampung suku Tengger.

Perjalanan kami anti-mainstream, kami naik angkutan umum dari kota Malang, menumpang bus ekonomi dengan tarif Rp14.000,- dengan tujuan terminal Bayuangga, Probolinggo. Kelebihan dari naik angkutan umum adalah kita bisa menikmati pemandangan dan mengamati banyak orang lalu lalang di sepanjang jalan. Itu menjadi hiburan tersendiri saat aku mulai mengkhawatirkan apa saja yang akan terjadi di perjalananku.

Traveling membuat pemikiranku perlahan terbuka, aku sering bertemu dengan orang baru dari berbagai penjuru dan melatihku untuk tidak malu. Berawal dari sapaan kita dapat menghemat pengeluaran.Aku dan temanku join sewa mobil Jeep dengan orang yang baru kita kenal di angkot karena kami memiliki tujuan yang sama, yaitu meng-explore TN Bromo. Yeay! Setidaknya kami dapat menghemat sekian ratus ribu.

Lewat tengah malam ada ketukan pintu membangunkanku dari tidur, rupanya sopir Jeep telah datang untuk menjemput kami. Jeep yang kami tumpangi meliuk di setiap tikungan, melewati jalan yang diapit jurang, berlari lincah di lautan pasir membuat sensasi yang tak terlupakan. Begitu sampai di Penanjakan 1 kami disambut dengan keramaian pengunjung, sopir Jeep yang kami tumpangi agak kesusahan untuk mencari tempat parkir. Suasana itu membuat semangatku menurun, itulah alasanku menghindari traveling saat akhir pekan. Pejalan berjejalan, memadati di sepanjang anak tangga menuju Sunrise View Point. Sayang sekali, kabut enggan beranjak dan sedikit menghalangi mentari memamerkan keanggunannya. 

Tujuan kedua adalah kawah Bromo, aku dan temanku memilih untuk mengandalkan kaki sendiri saat pengunjung lain menunggangi kuda. Sungguh ironi saat mengamati mimik kuda yang terlihat letih, naik turun bukit membawa penumpang demi memenuhi kebutuhan ekonomi pemiliknya.

image

Pemandangan yang menakjubkan membakar semangatku untuk menapaki anak tangga untuk mencapai bibir kawah Bromo. Butuh perjuangan yang ekstra untuk sampai ke atas, oksigen yang semakin tipis dan bau belerang yang semakin menyengat membuat nafas semakin tersengal-sengal. Bimbang antara putar balik atau meneruskan jalan kaki ke atas.

image

Aku yakin, aku akan menyesal jika tidak nekat jalan kaki ke atas. Aku tidak akan bisa mengabadikan pemandangan yang ku pajang di atas. Begitu sampai, aku berhenti sejenak dan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sembari memandangi keindahan alam yang terpampang di depan mata.

Sesuatu yang indah tidak akan kita dapat dengan cara yang instan, tidak sekedar berjuang, yang tidak kalah penting adalah pantang menyerah untuk mewujudkan semua mimpi kita, karena aku ada di sini (TN. Gunung Bromo) juga berawal dari mimpi. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s