kisah 24 jam

Cerita Pendek : Bersinggah.. (Part #1)

 

kisah 24 jam
berlalu seperti waktu (foto oleh Rizky Almira)
Sekian lama taman bungaku porak-poranda oleh badai dan masih menyimpan rasa takut untuk memulai kembali, harapan mengetuk pintu yang tertutup rapat dan masih memegang erat masa lalu.

“Bim, PAP –Post A Picture– dong.”

Aku membaca sekilas pop-up yang muncul pada layar.

“Kamu duluan” balasku.

Selang beberapa menit, aku membuka pop-up pesan baru dari Embun. Sekali klik saja potret wajah Embun sudah hampir memenuhi layar handphone. Sudut bibirku terangkat tanpa disuruh.

“Hahaha..kenapa harus pisang sih?” balas Embun setelah menerima potret yang baru saja kukirim.

“Kenapa? Ada apa sama pisang?”

“Nggak kenapa-kenapa sih, biasa aja”

“Aku sedang beli buah, terus nyempetin selfie pas hampir sampai kasir”

“Hahaha.. yaudah titip salam buat Mbak Kasir”

Aku masih tertunduk menatap layar sementara syaraf yang ada di sekitar bibir seperti mati rasa karena beberapa kali kelepasan senyum-senyum sendiri.

“Bim, lapar :(” keluh Embun.

Entah, langkahku terasa lebih ringan pada saat itu dan mungkin terlalu bersemangat –dan juga terlalu percaya diri mengajak Embun makan malam bersama.

“Makan nasi goreng sapi aja. Terus abis makan pulang? Hm..” tanggapan Embuh terhadap ajakanku.

“Mau apa enggak? Kalau mau, buruan share loc kos kamu” pintaku.

“Hujan nggak?”

“Enggak”

Gerimis tak cukup mampu menghadang tekadku menjemput Embun.

“Yah…hujan 😦 ”

“Aku hampir sampai”

“Hujan. Kamu naik apa? Pakai baju apa?”

“Naik motor, pakai jaket hijau”

Aku menepi dan berteduh di depan ruko yang sudah tutup. Lalu bayangan perempuan di depanku menyudahi lamunanku.

“Hai..” Embun melempar senyuman manis.

“Bimo” kataku lirih dan tersenyum sementara tanganku menyambut jabat tangannya.

Namun hujan justru semakin deras, memaksa kami untuk berteduh lebih lama. Hening sejenak, kami sibuk dengan pikiran masing-masing sampai tak sempat untuk saling berbicara.

“Kamu ngrokok nggak?” suara Embun memecah keheningan.

Reaksiku hanya menggeleng dan tersenyum kecil.

“Aku ngrokok dulu ya, nggak apa-apa kan?” tanyanya lagi.

“Iya, silakan..”

“Okay, ngudut dulu deh..”

Kepulan asap menyamarkan wajahnya yang ayu. Namun mata kucingnya kutangkap begitu cukup jelas dan mampu mengalihkan dari pengapnya udara.

***

Hujan mereda. Kami menelusuri jalanan yang masih basah. Angin yang menerpa wajah menguarkan aroma tanah basah.  Untunglah tempat makan yang dituju masih menyisakan bangku kosong. Embun duduk di hadapan, aku memandang lekat bibirnya yang penuh dan berwarna merah muda sangat menyatu dengan kulitnya yang putih dan mulus. Mata kucingnya terlihat elok.

Embun dan aku masih meraba topik yang tepat untuk dibahas. Ia masih sering sibuk dengan handphone-nya dan membuatku semakin canggung –dan tak tahu harus bertanya atau membahas topik apa lagi.

“Jalan Kemetiran tuh di mana, Bim?” tanyanya tiba-tiba memecahkan keheningan.

“Oh, itu daerah Tugu masih ke arah selatan” jawabku.

“Jauh nggak dari sini?”

“Ya, lumayan jauh. Kenapa?”

“Ada temanku sedang bersama pacar barunya dan ngajak ketemu.”

“Oh gitu..”

“Temanku nanya aku lagi di mana, aku cerita lagi makan sama kamu, teman baru aku. Terus dia bilang, ‘cuma boleh kenalan aja ya, nggak boleh lebih.’ ”

“Ha? Maksudnya gimana tuh?”

“Yah, masa sih kamu nggak ngerti”

“Enggak.. serius.”

“Nggak tahu betulan atau hanya pura-pura nggak tahu?”

Lalu Embun kembali terpaku pada gadget-nya dan membuatku kembali membisu sampai makanan yang dipesan tersaji di hadapan.

“Yah.. empingku cuma 2” gerutu Embun.

Aku memandangnya sebentar lalu memindahkan beberapa emping ke piringnya.

“Buat kamu..” kataku.

Senyumnya mengembang dan membuatnya semakin ayu. Rasanya diri ini kecanduan melihat senyumnya, memaksaku cari cara apapun untuk buat dia tersenyum lagi dan lagi.

“Nasi gorengnya enak. Biasanya aku beli nasi goreng yang ada di depan SMA 3 situ” kata Ebby

“Enak di sini atau di sana?”

“Di sini, soalnya rasa nasinya lebih asin. Kalau di sana cenderung ke manis”

“Aku juga lebih cocok dengan rasa nasi goreng di sini. Nggak suka sama nasi goreng yang di sana, pernah nerima nasi goreng yang udah nggak hangat”

“Gara-gara nasinya udah dingin doang?” tanya Embun heran dan matanya terbelalak.

“Setelah ini ingin kemana?” tanyaku.

“Emm..  nggak tahu” jawabnya sambil menggeleng.

“Yaudah, kita keliling. Nanti kalau kamu pengin berhenti bilang ya!”

***

Jalanan agak lengang. Namun pikiranku justru sebaliknya. Otakku sibuk merangkai lalu merombak lalu merangkai lagi pertanyaan yang hendak ucapkan. Lama berpikir ujung-ujungnya yang keluar dari mulut malah berbeda.

“Kamu pernah lewat sini nggak?” tanyaku.

“Kayaknya pernah, pas mau main ke kontrakan temanku. Ini kan arah ke terminal Condong Catur kan ya?” timpalnya.

“Apa? Terminal Condong Catur?” tawaku pecah dan senyumnya terpantul dari kaca spion.

“Aku kurang paham nama-nama lokasi, iya kan namanya Terminal Condong Catur?”

“Bukan! Hahaha”

“Aku tahunya terminal Condong Catur” katanya polos.

“Jangan-jangan kamu nggak tahu nama terminal yang ada di Jogja” tukasku lalu senyumnya kembali mengembang. Duh, manisnya.

“Hahaha.. Iya, aku tahu jalan tapi kalau disuruh hafalin namanya agak susah.”

“Apa perlu aku tunjukin satu per satu lokasi terminal yang ada di Yogyakarta?” seruku.

“Terminal yang dekat sini ada Terminal Giwangan” tambahku.

“Jadi touring dari terminal ke terminal dong ya.Hahaha. Ya maklum kan aku bukan anak terminal. Kok kayaknya sering dengar Giwangan ya?” pertanyaannya lagi-lagi berhasil memancing tawa.

“Ya iyalah, Terminal Giwangan itu terminal paling gedhe di sini.”

“Iya ya? Hahahaha.. Maaf.” tawanya bisa membuatku tenang.

“Coba sekarang aku tanya kamu, stasiun di Yogyakarta itu mana aja?”

“Stasiun Jombor terus…”

“Stasiun Jombor?? Hahahaha” potongku sambil terbahak-bahak.

“Aku susah hafal nama jalan apalagi nama tempat. Tiap kali tanya jalan ke orang, jawabnya selalu pakai bahasa Jawa terus jelasinnya pakai ‘kidul e’ (selatannya) atau ‘ngalor’ (ke utara). Sini aja bingung baca arah. Pernah ya aku mau jemput temanku di Club Malam daerah Jalan Magelang, aku nggak tahu tempatnya. Tanya orang, malah bikin bingung. Akhirnya nyasar sampai Keraton sana. Untung orangnya baik, aku diantar sampai ke tempat tujuan” tuturnya.

“Kalau di Yogyakarta masih banyak orang baik, Mbun.” tambahku.

“Aku belum pernah tau naik bus TransJogja” kulihat matanya dari kaca spion tak lepas memandang Bus TransJogja yang sedang berhenti di samping kami menunggu rambu hijau.

“Masak sih belum pernah?” tanyaku.

“Iya, belum pernah naik. Aku pengin deh kapan-kapan naik TransJogja”

“Naik sekarang aja, nanti aku jemput di halte depan” candaku.

“Ih.. nyebelin!” gerutu Embun.

“Hahaha.. eh, kalau lapar lagi bilang lho!”

“Iya…”

“Kalau mulai dingin, bilang lho!”

“Iyaa..”

“Kalau mulai ngantuk, bilang lho!”

“Iyaa.. apalagi?!”

Sepanjang jalan kami cekikikan membahas hal-hal yang sederhana. Mulai dari film yang sering diikuti dan kesenangan masing-masing.

“Kamu nggak takut pergi sama orang asing? Nggak takut diculik? Hii” aku menakut-nakuti.

“Nggak takut lah, aku bisa pulang sendiri” bantahnya.

“Kamu mau aku culik kemana?”

“Ih.. nyulik kok minta izin. Itu bukan nyulik tapi ngajak!” seru Embun.

Aku tak tahu harus kemana, tapi rasanya enggan untuk segera pulang. Akhirnya menyusuri sepanjang Jalan Gejayan dan mengikuti arus.

“Ini kan jalan Kaliurang?” tanya Embun.

“Iya, kenapa?”

“Aku beberapa kali pernah beli anggur di warung kaki lima sekitar sini, beli anggur buat anak-anak kampus.”

“Ohya? Minum sama teman-teman sekampus?”

“Yaa dan hanya untuk anak-anak terpilih doang yang bisa minum anggur di kampus. Syaratnya IPK harus di atas rata-rata.”

Aku tak terkejut mendengarnya. Sejak awal aku sudah mengagumi tatapan matanya yang membuatnya tampak begitu berbeda dengan perempuan lain.

“Aku mulai kedinginan” kata Ebby.

Tanganku sangat lancang meraih tangan Embun dan mengenggamnya sejenak, aku merasakan genggamanku bersambut. Badanku bergetar sebentar, ada perasaan aneh menyeruak dan menyebar ke seluruh rubuhku, sebelum aku mengarahkan tangannya masuk ke balik hoodieku. Terlihat sekilas bibirnya yang indah itu melengkung ke atas membuat dadaku terasa hangat.

Sekian lama taman bungaku porak-poranda oleh badai dan masih menyimpan rasa takut untuk memulai kembali, harapan mengetuk pintu yang tertutup rapat dan masih memegang erat masa lalu.

 

Bersambung…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s