kisah 24 jam

Cerita Pendek : Bersinggah.. (Part #2)

kisah 24 jam
berlalu seperti waktu (foto oleh Rizky Almira)
Mungkin luka di hati –yang terasa sangat dalam– itu mampu membendung jalannya akal pikiran. Cinta memang sederhana namun tak semudah itu 🙂

“Permisi, masih ada kamar kosong nggak?”

“Masih, kamar kosongnya tinggal satu di belakang, tarifnya 200ribu” sambut resepsionis.

Kami memutuskan singgah semalam di penginapan yang cukup sederhana. Malam sudah larut dan kami sudah berada di luar wilayah Yogya. Aku meringkuk di salah satu sisi ranjang, tak lama Embun menyusul berbaring di sampingku. Seranjang dengan orang asing membuatku terjaga hampir sepanjang malam.

“Kamu bisa tidur nggak?” tanyaku.

“Belum, dingin banget.” jawabnya.

“Pakai selimutnya gih”

“Selimutin..” pintanya memelas lalu kuraih selimut dan membentangkan ke atas tubuhnya.

“Ish, iseng banget sih!” serunya sambil menyibakkan selimut yang menutupi kepalanya dan tangannya mencengkeram lenganku sementara aku hanya tertawa.

Mataku masih sulit terpejam, padahal pagi nanti kami ingin menikmati terbitnya matahari di bukit yang tak jauh dari Cand Borobudur. Lalu terdengat rintik hujan dan kokokan ayam padahal angka pada jam di pergelangan tangan masih menunjukkan waktu tengah malam.

“Masih dingin..” kata Ebby lirih di antara gelap.

“Umm.. dingin banget?”

“Iya..” rintihnya.

“Boleh aku peluk? Sini..”

“Kamu lah yang kesini”

Dia tetap memunggungiku. Tak berapa lama dia berubah pikiran dan mengubah posisi tidurnya jadi menghadapku. Aku mendekapnya sembari mengusap kepalanya dan berharap bisa tidur dengan nyenyak. Aku jadi tak kuasa mengajaknya naik ke bukit, mengingat harus melewati jalan setapak yang cukup terjal. Apaagi sedang turun hujan, membayangkan tanahnya yang becek saja sudah membuatku menyerah.

***

“Embun…Bangun!” bisikku.

“Ada pisang goreng hangat buat sarapan” tambahku.

Ia hanya menyahut lirih dan matanya masih terpejam rapat. Akhirnya dia mau bangun dan menyantap sarapan setelah aku harus berusaha keras membujuknya.

“Eh, tahu nggak pas aku sholat di dekat resepsionis. Aku wudhu tuh di kamar mandinya. Waktu muter kran, eh krannya tau-tau lepas. Airnya nyembur ke arahku dong, aku panik. Saking paniknya nggak tahu harus ngapain. Untung pas aku tekan kran dan aku putar bisa. Fiuh! Jebakan banget deh. Kan nggak lucu kalau ada yang neriakin ‘Kena deh’ waktu aku keluar kamar mandi”

“Hahaha… Imajinasimu kok kemana-mana sih!” katanya sambil tertawa.

“Habisnya, takut kenapa-napa. Apalagi suruh ganti, males banget!”

Receh sih, tapi itu lebih baik daripada saling membisu dan masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Disela obrolan, aku menakut-nakuti untuk meninggalkan dia pulang, di luar dugaan dia menahanku dengan memegangi lenganku. Jemarinya kugenggam dan saling berpautan. Tak terlalu erat, juga tak terlalu renggang.

***

Dia bangun dari tidurnya yang lelap, kemudian kami bergegas meninggalkan penginapan sebelum tengah hari. Matahari siang mencoba menguji kesabaran. Kondisi lalu lintas yang cukup padat sungguh memuakkan. Aku pun mengajak Embun untuk makan siang.

“Kamu mau ngrokok di sini?” tanyaku dan mataku tanpa sadar terbelalak.

“Iya, memangnya kenapa?”

Aku memandang ke sekitar dan kurasakan tatapannya berbeda. Mungkin dia telah menangkap keraguan yang tersirat di raut mukaku. Meskipun begitu toh dia tak menghiraukan dan tetap asyik menghisap sebatang rokok setelah mencicipi tahu Blabak.

“Kenapa udahan ngrokoknya?” tanyaku heran.

“Ada anak kecil, bahaya kalau tetep ngrokok.”

Kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Saranku untuk menepi sebentar supaya dia bisa melanjutkan menghisap sebatang dua batang ditolaknya mentah-mentah. Raut mukanya terlihat kurang menyenangkan.

“Aku cuma ngantuk..” tuturnya saat kutanya apakah dia baik-baik saja.

“Kupas aja nih, biar kamu nggak badmood” aku menyodorkan sebungkus coklat untuknya.

Perasaan lega menyelinap saat kulihat senyumnya kembali merekah. Membuatku tak sabar untuk sampai ke rumah.

***

“Katanya mau tidur?”

“Iya, bentar lagi. Aku nonton video tutorial make-up dulu biar ngantuk” jawab Embun.

Matanya tertahan terjaga beberapa menit saja sebelum tertidur pulas. Saat itu hujan turun dengan derasnya, diselingi petir yang menderu. Sesekali dia spontan menghadap padaku dengan jemari lentiknya mencengkeram lenganku. Tanganku telah lancang lagi dengan mengusap kepalanya.

Waktu seperti sedang berlari, karena hari terasa cepat berlalu. Aku membangunkan Embun dengan bau mie goreng dan segelas susu coklat panas.

“Selesai makan, aku boleh ngrokok ya?”

“Iya, ngrokok di sini aja nggak apa-apa”

Di jendela kamar, aku memandang keluar. Mengemis pada semesta dalam hati, supaya hujan turun lebih lama. Karena ingin sekali waktu berhenti, naif sekali ya?

Masih tak kusangka kalau aku sedang di sini bersama Embun. Apa yang akan terjadi setelah ini?

“Ceria banget ya kalau kelar tidur, makan dan ngrokok! Hahaha” seruku.

“Emang.. Aku diam itu belum tentu badmood, bisa jadi karena ngantuk, lapar atau sedang makan. Aku makan harus fokus biar makanku nggak terlalu lama” jawabnya.

Pikiranku sibuk merunut mundur 24 jam yang lalu. Mengumpulkan semua cerita tentangnya dan ternyata kami berdua sangat berbeda. Namun keadaan itu tak membuatku ragu.

“Aku tanya dong, sekarang kamu lagi dekat sama siapa?” kata-kataku sedikit kacau.

“Dekat? Dekat dalam hal apa nih?” tanyanya balik.

“Ya, dekat.”

“Belum ada sih.”

“Boleh nggak aku kenal lebih dekat sama kamu?” tiba-tiba pertanyaan ini keluar begitu saja.

Jujur, aku malu sekali. Pertanyaan macam apa ini. Bodohnya.

“Boleh, tapi belum ada keinginan buat ke arah sana sih. Sebenarnya aku dekat dengan banyak orang, tapi ya gitu semua aku anggap teman.” jawabnya.

“Gimana ya aku bingung, jujur aja aku masih malas untuk memulai sebuah hubungan. Aku takut akan mengulang drama-drama sebelumnya.” tambahnya.

“Nggak masalah. Aku hanya ingin to the point sama kamu kalau aku ingin lebih dekat dengan kamu.”

Kemudian obrolan kami tertahan, ia harus menerima telepon dari sahabatnya.

“Begini aja, anggap aja aku nggak pernah menanyakan hal itu. Supaya nggak ada yang canggung.” ucapku.

“Kenapa begitu? Nggak akan ada yang canggung” tukasnya.

Setelah mengantarnya pulang, aku kembali terkulai di ranjang dan menatap keluar jendela. Rasanya masih tak percaya, namun aroma tubuh Embun menyadarkan bahwa ini bukan mimpi. Aku tercenung dan sibuk dengan pikiranku sendiri. Gamang karena ragu Embun akan hadir kembali.

***

Beberapa tahun berikutnya, aku sangat malu bila teringat kisah itu. Seharusnya lubang yang membuatku jatuh terperosok pada hubungan sebelumnya bisa memberi pelajaran yang sangat bermakna. Nyatanya aku luput dan seperti orang putus asa, membiarkan taman bungaku kembali terancam.

Mungkin luka di hati –yang terasa sangat dalam– itu mampu membendung jalannya akal pikiran. Cinta memang sederhana namun tak semudah itu 🙂

One thought on “Cerita Pendek : Bersinggah.. (Part #2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s