ayam gepuk! foto oleh Rizky Almira

Ayam Gepuk Pak Gembus, Sambalnya Itu Lho…

Sambal bawangnya asli bikin nagih.

“Mba, mau makan malam bareng enggak?” tanya Mufi.

“Makan apa ya?” tanya saya balik.

“Makan yang bisa dimasukin ke blog kamu, Mba.” jawabnya.

Saya spontan ketawa mendengarnya. Ceritanya, saya dan Mufi baru saja mengikuti #SharingSenja2 yang diadakan Komunitas Pengusaha Kreatif Jogja yang lokasinya ada di Kampung Labasan, Pakem. Kebetulan saya juga ingin makan malam, jadilah kami berdua memilih makan Ayam Gepuk Pak Gembus.

Ini adalah pengalaman pertama Mufi untuk makan di Pak Gembus, sedangkan ini adalah kali kedua saya makan Pak Gembus. Tempat makan ini franchise dan cabangnya tersebar di beberapa titik Yogyakarta. Sebelumnya kalau enggak salah cuma ada di Jakarta, lalu Pak Gembus buka cabang juga di sini.

“Eh, Muf.. itu warungnya Pak Gembus. Tapi kok sepi ya?”

“Gimana, Muf? Jadi mampir apa enggak? Kalau kamu enggak yakin, kita ke tempat lain aja.” tanya saya lagi.

“Nggak apa-apa, Mba. Kita kesitu aja.” jawab Mufi.

Ayam Geprek Pak Gembus. foto oleh Rizky Almira
Ayam Geprek Pak Gembus. foto oleh penulis

Pengunjungnya hanya saya dan Mufi. Yah, enggak apa-apa lah. Daripada pindah ke tempat makan lainnya yang lokasinya cukup jauh, takutnya Mufi pingsan di tengah jalan gara-gara kelaparan. 😀

Untuk harga sepaket nasi + ayam + sambal + lalapan itu Rp 15,000, lauk tambahannya bisa memilih tahu goreng, sate kulit, sate usus, sate rempela ati ayam, sate usus yang harganya Rp 2,000 – Rp 4,000. Saya memesan tahu goreng sedangkan Mufi pilih sate rempela ati.

sambal khas Pak Gembus. foto oleh Rizky Almira
sambal khas Pak Gembus. foto oleh penulis

Menurut saya, yang spesial dari Pak Gembus adalah sambal bawangnya. Sambalnya itu berbeda sama sambal-sambal yang ada di penyetan atau pecel ayam lainnya. Karena Pak Gembus menambah remahan kacang mete dan menguleknya bersama cabai rawit, bawang putih, garam lalu disiram dengan sedikit minyak panas. Kacang mete itulah yang menguatkan rasa gurih pada sambal. *menelan ludah*. 😀

ayam gepuk! foto oleh Rizky Almira
ayam gepuk! foto oleh penulis

Akhirnya pesanan yang dinanti pun tiba di meja. Tanpa ba-bi-bu kami langsung menyantap dengan mantap. Di sini kamu bisa request jumlah cabai rawit untuk sambalnya. Saya sih request 3 cabai saja. Itu pun pedasnya sudah cukup nampol. Mmm… gigitan pertama untuk potongan ayamnya, rasanya gurih banget. Bumbu ayamnya meresap sampai ke bagian tulang.

wagelaseh.. ayam gepuknya! foto oleh Rizky Almira
wagelaseh.. ayam gepuknya! foto oleh penulis

Kadang ada penjual penyetan atau pecel ayam yang bumbu ayamnya meresap tetapi cenderung asin doang. Kalau ayam gepuk ini pas sih, enggak hambar juga enggak terlalu asin. Teksturnya juga enggak keras dan alot, juga enggak lembek. Kalau dimakan bersamaan dengan cocolan sambal dan nasi pulen yang hangat, rasanya… ya ampun.

Saya juga suka dengan tahu gorengnya, teksturnya hampir sama dengan tahu Sumedang. Rasanya juga gurih. Enak! Kalau kamu pengin mencicipinya, cek dulu cabang Pak Gembus yang terdekat ada di mana. Terus lokasinya hampir semua di tepi jalan dengan ciri khas warna warungnya yang cenderung warna kuning. 😀

“Gimana ayam gepuknya, Muf?” tanya saya.

“Enak kok, Mba. Harganya juga enggak terlalu mahal.” jawabnya.

Mufi happy. foto oleh Rizky Almira
Mufi happy. foto oleh penulis

Dia makan pakai sendok hanya bertahan beberapa menit, kemudian menyerah dan melajutkan makan dengan tangan. Emang makan penyetan paling enak pakai tangan. Setuju? 😀
Suasana di Pak Gembus pun mulai ramai. Hampir semua bangku yang tadinya kosong sudah mulai terisi.

Sebenarnya ada kejadian yang bikin lucu tetapi agak malu sih kalau ingat. Seusai makan, kami enggak langsung bayar dan pulang. Masih lanjut mengobrol ngalor ngidul dan saya sempat melirik kenapa masnya mematikan kipas angin. Kemudian menyimpan tabung gas di bawah meja. Setelah diperhatikan lagi keadaan warung sudah sepi, hanya ada saya dan Mufi. Saya berpandangan dengan Mufi dan tersenyum geli. Mas dan Mbak Pelayan diam-diam sedang membereskan dan bersiap menutup warung, tanpa menegur. Saya jadi enggak enak hati. Hahaha.

So far, saya masih ingin balik lagi buat makan ayam gepuknya Pak Gembus. 🙂

 

 

 


Rating :
Aksesibilitas — ♥♥♥♥♥♥♥♥♥ (9/10)
Harga — ♥♥♥♥♥♥♥♥♥ (9/10)
Kebersihan — ♥♥♥♥♥♥♥♥♥ (9/10)
Rasa — ♥♥♥♥♥♥♥♥♥ (9/10)
Suasana — ♥♥♥♥♥♥♥♥ (8/10)
Pelayanan — ♥♥♥♥♥♥♥♥♥ (9/10)
Skor : 8,8/10

“Disclaimer : Tulisan ini semata-mata untuk berbagi informasi dengan pembaca. Untuk penilaiannya subyektif berdasarkan sudut pandang penulis. 🙂 “

 

 

2 thoughts on “Ayam Gepuk Pak Gembus, Sambalnya Itu Lho…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s