Sate Klatak Pak Bari. foto oleh Rizky Almira

Sate Klatak Pak Bari, Kuliner Hit yang Ada di Film AADC 2

Apa sih yang menarik dari sate klatak Pak Bari sampai Rangga dan Cinta makan malam di sini?

Kalau kamu mengikuti film Indonesia berjudul Ada Apa Dengan Cinta 2 pasti ingat sama adegan Rangga dan Cinta tidak sengaja bertemu di Yogyakarta kemudian suatu malam si Rangga mengajak Cinta makan sate. Enggak mengikuti filmnya? Ya sudah, enggak apa-apa. Kamu tetap bisa melanjutkan baca buat referensi kuliner malam yang enggak boleh terlewatkan ketika ke Yogyakarta.

Apa yang bikin Sate Klatak Pak Bari ini berbeda sama sate-sate yang lain? Suasana di sini agak berbeda, karena tempat makan Pak Bari ini tidak menempati bangunan permanen seperti tempat makan lainnya. Melainkan menempati lapak-lapak yang tutup di sebuah pasar. Iya, betulan pasar! 😀

sate klatak Pak Bari. foto oleh Rizky Almira
sate klatak Pak Bari. foto oleh penulis

Sate klatak Pak Bari ada di Pasar Wonokromo di daerah Bantul. Terakhir kali kesini, saya deg-degan kira-kira buka enggak ya. Soalnya waktu pertama kali kesini tutup, takut terulang lagi. Eh, begitu sampai lihat lapak Pak Bari masih sepi. Tetapi ada tanda-tanda kalau akan buka.

“Mas, masih lama ya?” tanya saya pada Mas-mas yang sedang menyalakan api di tungku.

“Masih, bukanya jam 7 malam ya, Mba.” jawabnya.

Pantas saja ya masih sepi banget, ternyata setelah melirik jam tangan saat itu pukul 6 petang –sepertinya malah kurang. Mau menunggu di situ kok kayaknya masih lama banget. Lalu saya memutuskan beranjak mencari masjid atau musola untuk numpang salat.

Setelah rampung, saya dan Fajrina kembali lagi ke Pak Bari. Ternyata masih belum buka. Di situ kami tidak sendirian, ada satu cowok juga menunggu Pak Bari buka. Buat kamu yang ingin kesini bisa memperhitungkan waktu, di pas-in saja jam 7 sampai sini. Biar begitu datang bisa langsung pesan.

daftar menu Pak Bari. foto oleh Rizky Almira
daftar menu Pak Bari. foto oleh penulis

Saya memesan sate klatak, kicik daging, seporsi nasi dan dua jeruk hangat. Totalnya kalau dihitung enggak habis sampai Rp 50,000. Menurut saya, harganya masih standar kok. Ohya, sate klatak ini kuliner asli Bantul. Di daerah sini –terminal Giwangan ke arah selatan– memang buwanyak yang menjual sate klatak. Tetapi yang cukup dikenal ya Pak Bari salah satunya. Makin malam, pengunjungnya semakin banyak. Saya juga pernah kesini eh enggak kebagian tempat, akhirnya harus menunggu orang yang mau selesai makan.

ini Cinta.. eh Fajrina lagi menunggu sate. foto oleh Rizky Almira
ini Cinta.. eh Fajrina lagi menunggu sate. foto oleh penulis

Dari foto di atas terlihat banget bangku yang digunakan adalah rak dan meja yang bisa berfungsi seperti lemari untuk menyimpan dagangan. Bisa jadi paginya bangku yang kami duduki ini dipakai jualan sayur dan buah, kami tidak tahu. 😀

sate klatak dan kicik daging Pak Bari. foto oleh Rizky Almira
sate klatak dan kicik daging Pak Bari. foto oleh penulis

Akhirnya ya setelah menunggu Pak Bari buka dan menahan lapar sekian purnama, pesanan kami pun datang. Ngiler enggak lihatnya? Saya saja menulis sambil menelan ludah. Hahaha. Kelihatan banget daging kambing yang ditusuk memanjang itu yang namanya sate klatak. Beda banget kan sama sate kambing biasanya?

Sate klatak itu enggak pakai tusuk sate dari bambu tetapi pakai ruji sepeda. Betulan ruji sepeda yang ada di bagian roda. Konon namanya sate klatak karena bunyinya kayak klatak…klatak.. waktu di bakar di atas bara api jadi orang-orang menyebutnya sate klatak. (Tolong dikoreksi kalau saya salah ya. Hehe). Sate klatak ini disajikan dengan kuah yang mirip kuah gulai, rasanya gurih dan tidak dicampur dengan kecap. Dagingnya sendiri enggak alot, karena kambing yang disembelih umumnya masih muda. Jadi sengaja banget biar enggak alot dan semakin nikmat.

Rasanya gurih-gurih sedap saat makan daging dan kuahnya bersamaan. Terus enaknya lagi satenya enggak bau kambing banget. Beuh… jadi laper. Fajrina memesan kicik daging, sebelumnya pernah memesan kicik tengkleng isinya ya balung kambing dengan sisa daging dikit yang menempel di sela tulang ternyata rasanya enak. Kemudian karena malas tangan kotor dan bau kambing akhirnya pilih kicik daging.

Kicik ini rasanya seperti tengkleng tetapi bumbunya lebih sederhana. Cita rasa yang dominan adalah manis dari kecap dan gula jawa. Sayangnya saat terakhir kali kesini rasa kiciknya kurang nendang. Dagingnya agak alot, malah lebih empuk daging sate pesanan saya. Kuah dari kiciknya terlalu manis, entah kebanyakan kecap atau gula jawa. Saya enggak ngerti kenapa rasanya berbeda dengan kicik yang dipesan saat pertama kali kesini. Biarkan ini menjadi sebuah teka-teki. Hahaha.

Ohya, kalau kamu enggak pengin terlalu banyak makan nasi. Saya menyarankan pesan seporsi nasi buat berdua, karena Pak Bari kasih nasinya royal banget. Saya sampai kenyang bego nih sepulang dari Pak Bari. Saya mau sih balik buat makan kesini meskipun lokasinya jauh parah kalau dari kota apalagi dari daerah tempat tinggal saya. Kalau naik motor bisa sampai hampir setengah jam. Tetapi Sate Klatak Pak Bari pantas dicoba kalau kamu sedang ada di Yogyakarta. 🙂

 

 

 

 


Rating :
Aksesibilitas — ♥♥♥♥♥♥♥ (7/10)
Harga — ♥♥♥♥♥♥♥♥♥ (9/10)
Kebersihan — ♥♥♥♥♥♥♥♥ (8/10)
Rasa — ♥♥♥♥♥♥♥♥ (8/10)
Suasana — ♥♥♥♥♥♥♥♥ (8/10)
Pelayanan — ♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥ (10/10)
Skor : 8,3/10

“Disclaimer : Tulisan ini semata-mata untuk berbagi informasi dengan pembaca. Untuk penilaiannya subyektif berdasarkan sudut pandang penulis. 🙂 “

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s