naik motor dari Jogja ke Malang

Pulang, Naik Motor dari Jogja ke Malang

Pulang…

Libur lebaran kali ini saya bertekad naik motor dari Jogja ke Malang menunggangi Going Merry –motor kesayangan– melintasi Klaten, Surakarta, Sragen, Ngawi, Madiun, Nganjuk, Kediri untuk singgah rumah Ibu Kandung di Pujon, Kabupaten Malang.

Going Merry, motor yang menemani hampir separuh hidup saya. Sejak saya masih berseragam putih abu-abu hingga saya akhirnya kembali merantau ke Yogyakarta untuk bekerja. Alasan saya nekat pulang dengan naik motor sebenarnya cuma satu, mengantarnya pulang setelah saya membawanya ke Yogyakarta. Sudah 11 tahun bersama, waktunya untuk istirahat di rumah.

Selain itu, saya juga ingin sekali menunaikan janji pada Ibu. Masih ingat banget dulu saya pernah bilang akan menginap satu – dua malam. Tetapi belum terwujud hingga enggak sadar kalau sudah 3 atau 4 tahun berlalu tetapi masih jadi wacana.

Seusai solat shubuh, saya pun bergegas. Jalanan enggak ramai tetapi juga enggak sepi. Perjalanan saya masih sangat panjang. Sepanjang perjalanan pikiran enggak jauh-jauh dari memori beberapa tahun lalu. Lamunan pun buyar ketika saya sadar sedang berada di rute yang salah sebelum memasuki wilayah Sragen. Sok tahu sih.

Saya baru tersadar kalau salah arah ketika menelusuri jalan kecil di bawah jembatan tol Ngawi – Madiun. Setelah cek di Gmaps, saya pun putar balik. Menelusuri rute awal dan saya masih belum menemukan jalan menuju Sragen. Saya masih congkak, jadi belum kepikiran buat bertanya pada penduduk sekitar. Sok tahu, merasa bisa mengatasinya.

Kebetulan sedang hoki, saya melihat ada bus besar dari jauh. Bus Gunung Harta dengan tujuan Jawa Timur itu mengambil jalur yang saya yakin ke arah Surabaya. Pelan-pelan saya mengejar untuk mengikutinya –bagai anak itik yang tak mau kehilangan induknya etdah.

Napas kembali plong ketika melewati Pondok Pesantren Putri Gontor di Ngawi. Ngegas jadi lebih mantap karena sedang di rute yang benar. Begitu masuk Ngawi, track mulai monoton dan jalanan mulai bergelombang. Kondisi lalu lintas masih lancar sih, tapi saya sudah suntuk banget di jalan. Eh, tiba-tiba ada dua motor menyalip.

“Mudik Ceria, Jogja – Kediri” begitu kata tulisan pada kertas yang ditempel pada belakang motornya.

Refleks tersenyum. Entah, saya merasa bertemu teman senasib sepenanggungan. Saya merasa enggak sendirian. Meski kami tidak saling bertegur sapa. Sesederhana itu sudah bikin semangat lagi. 😀

Enggak bisa dibantah, pantat pun mulai kaku seperti kanebo kering. Rasanya ingin selonjoran dan rebahan. Bahu ini juga enggak kalah pegal karena harus menggendong ransel yang cukup berat. Posko mudik yang enak buat disinggahi pun enggak terlihat. Terpaksa harus menahannya kuat-kuat. Gimana lagi? Masa mau menyerah dan putar balik? Sudah terlanjur basah. Berenang aja sekalian ke seberang.

Selama perjalanan naik motor dari Jogja ke Malang ini yang paling menyeramkan adalah rute di Nganjuk, karena semua kendaraan tumplak dalam satu jalan. Mobil dan bus besar keluar dari tol, pengendara motor seperti saya ini harus ekstra hati-hati. Karena bus bus itu sangat buas. Begitu melihat papan menunjuk arah ke Kediri, saya enggak sabar buat belok, menghindari jalan utama yang menurut saya kurang ramah buat pengendara motor.

Kalau jeli, hal sederhana dalam sebuah perjalanan bisa jadi analogi untuk kehidupan –yang pelik ini. Pilihan rute memang bebas buat dipilih, tetapi kita enggak bisa lepas dari resikonya. Dari semua pilihan yang saya ambil ternyata tidak selalu yang terbaik. Pernah menyesali atas sebuah pilihan karena tidak terlalu siap menghadapi resikonya. Tetapi sudah terlanjur melangkah jauh, mau putar balik juga nanggung. Mau enggak mau ya harus hadapi kenyataan, apapun itu. Seperti pilihan dalam hidup –klise ya, hahaha.

Going Merry terus melaju. Sementara saya masih terus mengingat jalan yang terasa asing ini. Seingat saya gapura “Selamat Datang di Kota Kediri” tidak terlalu jauh dari jalan utama Nganjuk ke arah Surabaya. Setengah jam berlalu kenapa belum ketemu gapuranya?

Alih-alih pakai Gmaps biar cepat sampai Malang, malah kesasar di tengah persawahan. Jalan yang dilalui makin sempit, jadi makin ragu ditambah lagi enggak ada angkutan umum yang melintas. Dan tidak ada satu pun papan penunjuk arah. Rupanya Gmaps error karena koneksi yang kurang stabil. Ingin tanya pada penduduk sekitar tetapi satu batang hidung pun tak nampak.

Tanpa arah yang pasti, motor pun berhenti di depan Pabrik Gula Kediri. Saya kembali akses Gmaps dan mengikuti rute yang disarankan.

“200 meter lagi belok kiri.” kata Gmaps.

Shit! Bukannya jalan yang terlihat tetapi malah makam sesepuh desa yang entah lupa namanya. Parahnya lagi enggak ada satupun penduduk terlihat. Saya kembali memutar arah bertemu jalanan itu-itu lagi –yang pernah saya lewati sebelumnya.

Percobaan terakhir dengan Gmaps, rute tercepat menuntun saya ke Wisata Bendungan Waru Turi Kediri.

“Lhoh, kok?!”

Saya kembali ragu.

“Pak, kalau arah ke Pare kemana ya?”

“Oh, mbaknya bayar dulu Rp 5,000 terus nyebrang bendungan nanti ikuti mobil pickup itu ya.”

Saya mengikuti mobil di depan dengan perasaan campur aduk. Tadinya skeptis sama Gmaps gara-gara beberapa kali kesasar eh ternyata rute yang terakhir benar adanya. Ya, namanya juga manusia. Sekali dibikin kecewa bakal susah buat percaya lagi –yaelah, sama aplikasi aja baper hahaha.

Melintas dengan pemandangan kanan kiri pepohonan yang teduh di Kasembon, Ngantang bagai menemukan oase setelah perjalanan panjang di tengah gurun antah barantah. Kain pelindung wajah saya tarik perlahan, biar hidung leluasa menghirup aroma pepohonan.

Aroma familiar yang membawa saya pada ingatan masa kecil, masa di mana saya tidak pernah jauh dari ketiak Ibu. Mungkin jalan ini sudah mengalami tambal sulam puluhan kali, tetapi tidak dengan kenangan tentang bagaimana Ibu memeluk saya sepanjang jalan ini. Bagi saya, pohon-pohon di tepi jalan menuju rumah Ibu kandung saya selalu menyambut semua orang dengan cara yang sama. Aroma khasnya yang belum berubah –semoga tidak akan berubah karena ulah manusia serakah ya.

Kaki saya pun bergetar begitu menginjak tegel lawas pada sebuah rumah sederhana yang ada di kaki bukit. Rumah ini pun belum banyak berubah. Hawa di Pujon sedang dingin banget. Tetapi senyum Ibu dari dapur menghangatkan badan saya dari sini –dari dalam dada. Lelah karena naik motor dari Jogja ke Malang rontok sudah.

Ibu, akhirnya saya pulang untuk menunaikan janji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s