Kutipan ala Sahabat Menanam. Dokumentasi pribadi

Menanam Kebaikan ala Sahabat Menanam

“Pokok e menanam lah, apapun, sing penting bukan menanam keburukan”

“Pokok e menanam lah, apapun, sing penting bukan menanam keburukan”

Sekitar beberapa hari lalu begitu saya tiba di rumah, besoknya langsung diajak Mas Pandu buat main ke basecamp Caping Gunung yang lokasinya ada di Lodoyo, Blitar. “Temanku satu ini baru menang Pemuda Pelopor 2018.” ujar Mas Pandu.

Saya sih mau dan seneng aja, lumayan bisa nambah teman baru sekalian liputan untuk proyek rahasia. Sekitar jam 9-an saya bertemu dengan Mas Pandu di rumah salah seorang temannya. Awalnya rada kikuk gitu, untungnya teman-teman Mas Pandu sangat welcome menyambut saya sebagai orang baru.

Mas Bagus, sang pemilik rumah, ternyata salah satu pendiri Sahabat Menanam. Nah, Sahabat Menanam ini ialah salah satu unit kegiatan dari Caping Gunung Foundation. Sahabat Menanam ini kegiatan sosial yang dipelopori anak-anak muda asli Blitar lho. Oh, kamu baru tahu? Hahaha. Sama. Saya juga baru tahu.

Selain Mas Bagus, saya juga kenalan dengan Mbak Tisa (istri Mas Bagus), Arum, dan Mas Dolis. Ternyata Mas Dolis ini juga pendiri Sahabat Menanam, malah beliau ini berperan sebagai pembina juga. Ohya, Mas Dolis inilah yang baru pulang dan menyabet Anugerah Pemuda Pelopor 2018. Keren ya!

Sejak di rumah Mas Bagus banyak sekali yang kami bahas, mulai dari potensi yang dimiliki oleh Blitar sampai tak segan menanyakan saya mendukung Capres nomor berapa untuk Pilpres mendatang. 😀

Sungguh random sekali.

Setelah kenyang makan siang rujak ulek khas Jawa Timur, kami bergegas ke rumah Mas Dolis. Mas Pandu bilang, suasana di sana lebih cihuy. Rindang banget, katanya.

Ngueng… Ngueng…

Ya! Suasana rumahnya rindang betulan. Di rumah induk ada pendopo yang ukurannya tidak terlalu besar. Tapi cukuplah kalau buat berteduh belasan orang atau malah lebih. Halaman di samping rumah induk cukup luas. Blitar panas siang itu tapi di sini teduh karena ada beberapa pohon besar di halaman.

Greenhouse di basecamp Sahabat Menanam. Dokumentasi pribadi
Greenhouse di basecamp Sahabat Menanam. Dokumentasi pribadi

Saya segera eksplorasi ke greenshouse, menjenguk bibit apa aja yang ada di sini. Banyak sekali bibitnya, mulai dari bibit durian, mangga, kluwih, jambu air dan masih banyak lagi. “Wah, penjual bibit nih”, batin saya.

Jujur, saya suka sekali berada di antara rimbunnya bibit yang dahannya mulai tinggi ini. Ditambah dengan kutipan-kutipan yang story-able.

“menanam itu ibadah.”

Kutipan ala Sahabat Menanam. Dokumentasi pribadi
Kutipan ala Sahabat Menanam. Dokumentasi pribadi

Terus, apalagi ya.. waduh, kok lupa. 😦

Saya pun bergeser ke area bikin kompos dan penyemaian. Saya memerhatikan biji-biji mangga yang sudah mengering. Sebagian tertancap di polybag yang penuh dengan tanah yang sudah dicampur dengan pupuk, sekam dan lainnya. Sebagian tergeletak, bercampur baur dengan biji mangga lainnya.

“Sangar yo mas, nggawe biji mangga og piye (sangar ya mas, pakai biji mangga). Biji kering gini memang bisa tumbuh, mas? ” tanya saya dengan penuh penasaran.

“Ya, namanya juga usaha, Mbak.” jawab Mas Dolis dengan santai.

Menyemai ala Sahabat Menanam. Dokumentasi pribadi
Menyemai ala Sahabat Menanam. Dokumentasi pribadi

Saya mendekati bibit yang batangnya tumbuh belum terlalu tinggi, kira-kira 5 cm gitu. “Ini bibit apa, mas?” tanya saya ke Mas Dolis.

“Oh itu bibit trembesi, sebelahnya ada butternut atau kacang mentega. Nanti bawa pulang dua atau tiga aja, nggak apa-apa.” jawab Mas Dolis.

Wah, ya saya senang to. Main kesini eh dikasih bibit tanaman gratis. Hitung-hitung hadiah ulang tahun lah ya.

Sementara Mas Pandu sedang sibuk menyamankan diri rebahan di atas kursi dan menikmati semilir angin yang sepoi-sepoi. Saya keliling melihat sekitar.

Rupanya Sahabat Menanam pernah mengadakan kelas menanam dan sempat dikunjungi oleh adek-adek mulai dari tingkat SD hingga SMP. Belajar menanam di sini pun gratis, syaratnya cuma bawa sampah apapun, baik sampah organik maupun non-organik. Sahabat menanam akan menerimanya dengan senang hati.

Selain mengadakan kelas menanam, kegiatan Sahabat Menanam lain adalah luru winih, bahasa Indonesianya mengais biji buah dari penjual buah dan dari manapun. Dari biji-biji itu lah Sahabat Menanam bisa melakukan penyemaian di Bengkel Tanduran.

Bengkel Tanduran. Dokumentasi pribadi
Bengkel Tanduran. Dokumentasi pribadi

“Menanam itu mudah, Mbak. Bocah TK yo iso. Merawat e sing angel (Menanam itu mudah, Mbak. Anak TK ya bisa. Merawatnya yang sulit)” ucap Mas Dolis.

Sampai detik ini sudah 25ribu bibit yang ditanam oleh Sahabat Menanam sejak berdiri pada tahun 2015. Itu belum bibit yang dibeli secara patungan oleh anggota unit kegiatan ini. Banyak ya! Mereka punya agenda tahunan buat menanam di kawasan yang sudah ditentukan sebelumnya, selain itu juga menjalin kerjasama dengan Perhutani dan instansi lain buat mendampingi program yang ada kaitannya dengan tanam menanam.

Agenda menanam juga disesuaikan dengan kapasitas kemampuan Sahabat Menanam dalam menyiapkan bibitnya. Menurut Mas Dolis, saat ini Sahabat Menanam baru mampu menyediakan maksimal 5000 bibit per tahunnya. “Mending kita menanam sedikit tapi berkualitas hidup tinggi, ketimbang nanam banyak tapi kualitas hidupnya enggak ada 50%. Eman, ngisin-isini. Kasihan tandurane (sayang, malu-maluin. Kasihan tanamannya)” kata Mas Dolis.

Ternyata di balik proses gerakan menanam di sebuah kawasan itu tidak cuma sekedar datang, lalu tanam, lalu kita tinggalkan dan bimsalabimadakedabra tanaman yang ditanam akan tumbuh subur dan kamu berhasil berkontribusi dalam misi penghijauan bumi yang kita cintai ini.

Nggak sesederhana itu. Beberapa bulan sebelum tahap penanaman, Sahabat Menanam masuk ke dalam masyarakat yang kawasannya akan ditanami. Tujuannya ya sosialisasi dan edukasi. Setelah menanam pun Sahabat Menanam nggak diam begitu aja, mereka tetap mengawasi tanaman-tanaman yang telah ditanam untuk memastikan tetap hidup. Target mereka 75% dari total tanaman yang ditanam itu hidup.

“Terus setelah menang Anugerah Pemuda Pelopor 2018 ini rencana kedepannya apa aja?”

“Pastinya kegiatan kita jadi lebih banyak, ya sing jelas, pokok e menanam lah, apapun, sing penting bukan menanam keburukan. Pelan-pelan lah, Mbak. Kayak filosofinya menanam, nggak bisa cepat-cepat. Sesuatu yang cepat malah khawatirnya nggak baik. Nggak baik buat aku sendiri, takutnya sesuatu yang cepat itu akan menjerumuskan aku ke hal yang nggak baik.”

Saya masih ingat, Mas Dolis bercerita bahwa Sahabat Menanam ini membuat gebrakan gerakan Blitar Menanam semata-mata untuk menyelamatkan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan warga Blitar. Dari 9 pemuda iseng di Blitar yang butuh kegiatan lebih berfaedah lalu berlanjut jadi kegiatan rutin setiap tahunnya, meski sempat vakum namun lahir kembali Sahabat Menanam dengan konsep yang lebih matang.

Mas Dolis. Dokumentasi pribadi
Mas Dolis. Dokumentasi pribadi
Mas Bagus. Dokumentasi pribadi
Mas Bagus. Dokumentasi pribadi

Saya enggak nyangka ternyata di Blitar ada sosok pemuda seperti Mas Dolis, Mas Bagus dan lainnya yang kreatif, inspiratif, dan solutif. Saya jadi malu, saya yang lahir ceprot di Blitar ini sampai detik ini belum merasa memberikan kontribusi apa-apa untuk kampung halaman saya. Adanya malah berpikir gimana caranya sukses di perantauan seperti orang kebanyakan.

8 thoughts on “Menanam Kebaikan ala Sahabat Menanam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s