Mimi lan mintuno

Saya Juga Manusia Biasa

Curhat dong, Mah ~

“Mosok nggih lek lemu mboten pareng gerah? Lemu, kurus, sami mawon, Pak. Nggih saget sakit. (Masak kalau gendut nggak boleh sakit? Gendut, kurus, sama saja, Pak. Semua bisa sakit).”

Sore ini saya nekat nyetir sendirian ke tempat praktek dokter langganan keluarga kami. Mulai siang tadi badan saya mulai nggak enak. Badan ngilu di beberapa titik, di atas pantat, lutut, dan sendi lainnya.

Saya menggigil karena merasa dingin banget, sementara suhu badan terus merangkak naik. Kepala bagian belakang juga pening naudzubillah.

Tekat saya cuma satu, berobat supaya badan segera enakan. Antrian di ruang tunggu nggak terlalu ramai, saya amati hanya saya dan 1 pasien lain yang usianya masih muda. Pasien lain mungkin sebaya dengan Bapak Ibu saya.

“Njenengan lemu mosok gerah? Gerah nopo, Pak (Bapak badannya berisi dan terlihat segar bugar gitu masak bisa sakit? Sakit apa, Pak)” tanya seorang Bapak di depan saya pada Bapak tambun di seberang.

“Mosok nggih lek lemu mboten pareng gerah? Lemu, kurus, sami mawon, Pak. Nggih saget sakit. (Masak kalau gendut nggak boleh sakit? Gendut, kurus, sama saja, Pak. Semua bisa sakit).”

Saya menyimak percakapan mereka dan nggak bisa nahan buat tidak ikut tertawa. Kepala saya noleh ke kanan kiri, seperti nonton pertandingan tenis meja.

Bapak di depan saya bercerita tentang penyakitnya, beliau juga merasa nggak enak badan. Khawatirnya asam uratnya sedang naik.

Sedangkan Bapak tambun di seberang juga curhat mengenai sakitnya yang hampir sama. Guyon receh mulai keluar dari masing-masing pasien yang didominasi oleh Bapak-bapak.

“Kalau makan bebek, jeroan, atau daging masih bisa saya tahan. Tapi makanan lainnya itu lho yang nggak bisa saya tahan. Lainnya makan jadi pengen ikut makan.”

“Saya juga gitu, pernah asam uratnya kembuh jadi makannya nasi jagung dan sayur bening. Obat sudah habis pas kontrol kok malah tinggi. Ternyata sayur bayam yang bikin asam urat makin naik.” terkekeh menertawakan dirinya sendiri.

“Kalo saya ya paling kacang-kacangan itu, gorengan apa lagi.”

“Mungkin kalau makan dikit aja bikin badan sakit, coba makan banyak sekalian aja. Biar nggak nanggung.”

Semua ikut tertawa. Gila ya, mereka sakit tapi masih sempat guyon receh. Sampai nggak kerasa sebentar lagi adalah giliran saya buat masuk ke ruang dokter.

“Keluhannya apa?”

“Demam dan pening, Dok.”

Pak Victor mulai memeriksa detak nadi, tekanan darah dan suhu badan saya. Hal paling mengejutkan adalah suhu badan saya mencapai 39,7°C. Ditambah dengan kondisi rongga tenggorokan yang berlendir.

Sebelumnya, saya memang punya riwayat radang tenggorokan. Dulu sering kambuh, sekarang sudah jarang.

Banyak makanan yang harus saya hindari, seperti minuman dingin, soda, pedas, micin, jajan chiki, gorengan. Menurut saya, semua makanan yang saya sebutin itu nikmat banget eh ternyata jahat.

Saya sudah berusaha buat ngurangin makanan di atas. Sekarang minum air putih hangat terus. Kemarin beli susu kaleng dan masukin ke kulkas biar makin seger. Nggak tahunya malah jadi sumber masalah.

Memang beberapa hari terakhir saya kurang jaga makan sih, masih suka makan gorengan, pedas, mungkin lendir di temggorokan makin menumpuk dan hari ini adalah puncaknya.

Sebenarnya saya mulai kenalan dengan radang tenggorokan sudah lama. Mungkin sejak saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Saya kadang rada keki sih, gimana nggak keki? Muka sesangar ini minum Pokariswet dari kulkas atau minuman lain langsung koit. Badan langsung meriang dan itu nggak enak banget. Eh, serius.

Pernah waktu saya ada proyek dengan dosen, waktu itu dapat jatah ke Banyuwangi. Saking hawa siang hari panas banget, saya pun beli sebotol mijon. Segar banget di tenggorokan. Selang nggak lama, badan saya langsung drop.

Saking sensitifnya, saya pun terpaksa minum air putih terus. Kondisi radang tenggorokan saya makin parah ketika mulai merantau di Surabaya. You know di sana kadang makan di pinggir jalan, kebersihan dari tempatnya pun ala kadarnya.

Salah makan dikit, drop. Salah minum dikit, sakit. Saya pernah merasa dipandang lebay oleh teman-teman kampus saking sensitifnya tenggorokan.

Bayangkan, karena terlalu selektif terhadap minuman yang masuk ke tenggorokan, saya bisa membedakan brand dari air putih yang saya minum tanpa melihat galonnya.

Suruh hadapi kecoa, oke lah saya nggak takut. Suruh angkat galon, it’s okay saya masih bisa. Suruh bepergian sendiri, nggak masalah. Kelemahan saya satu, suruh sembarang makan aja. Nanti deh langsung sakit.

Saya juga manusia seperti kamu. Saya juga bisa sakit. Penyakit itu nggak pilih-pilih mau masuk ke badan siapa pun. Mau kurus, mau gemuk, mau tinggi, pendek.

Makin kesini saya jadi harus lebih memperhatikan gaya hidup. Wonderwomen itu cuma mitos, bagi saya. Ibarat gadget, tiap orang punya fitur unggulan masing-masing.

Mau kasih label pada saya yang bukan seperti perempuan kebanyakan –yang apa-apa sendiri. Plis, saya juga manusia biasa. Catat! Sekuat apapun, saya tetap butuh bantuan kamu, khususnya kaum Adam. (Kok kalimat terakhir nggak nyambung sama atasnya ya? 😄)

2 thoughts on “Saya Juga Manusia Biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s