Alasan Saya Menulis, Menulis, dan Menulis

Kira-kira kenapa ya? :p

Sebenarnya alasan saya menulis itu ceritanya puanjaaaang banget. Saya takut kamu bosan waktu membaca cerita saya. 😦
Bosan nggak? Mudah-mudahan enggak ya, toh kalau bosan pas baca nanti kamu boleh skip atau melewatkan tulisan saya ini. Sebelum saya bercerita puanjang luebar, sebenarnya alasan menulis adalah untuk mempermudah saya dalam hal mengingat.

Jujur sekali, saya mudah lupa. Selain membantu saya dalam mengarsipkan kenangan lewat rangkaian kata, menulis membuat saya lebih leluasa untuk mengeluarkan unek-unek atau sesuatu yang bergejolak dalam batin dan pikiran saya. Menulis juga sebagai media saya untuk bercerita mengenai suatu kejadian atau pengalaman pada khalayak dengan lebih efisien (misalnya pengalaman jalan-jalan ke suatu tempat lalu ada teman yang penasaran, cukup kasih link tulisan di blog, biar temannya baca jadi nggak perlu jelasin lagi dan lagi. Praktis bukan? :p ).

Begitulah cerita singkat di atas merupakan alasan saya menulis, menulis, dan menulis. Kalau flashback ke masa lalu, dulunya nggak ada tuh cita-cita —yaelah, boro-boro punya cita-cita menulis, hobi pun enggak– jadi penulis. Kemudian hidayah pun datang lewat kakak sepupu yang sedang liburan ke Blitar. Kebiasaannya yang menurut saya aneh kala itu adalah ia agak sulit untuk tidur, kemudian saat begadang gitu diam-diam dia nulis apapun itu di bukunya.

Dia hobi banget bikin catatan khusus dan jadi kejutan waktu saya nggak sengaja menemukan tulisan tangannya yang rapi sekali di buku catatan maupun pelajaran sekolah. Intinya, ia selalu mengingatkan tentang kebaikan dan kebajikan (eciee, romantis betul :p). Diam-diam saya girang banget setelah baca tulisannya.

Selain hobi bikin coretan di buku saya, kakak sepupu saya itu suka banget mendongeng sebelum saya tidur sampai saya terkantuk-kantuk dan akhirnya amblasssss masuk ke dunia mimpi. Saya masih ingat, Kakak sepupu menceritakan seorang pemuda yang tampan tapi fakir akal alias kurang pintar yang gara-gara kepolosannya malah menyebabkan ibunya binasa di tangannya sendiri. Ceritanya sangat sederhana, tapi dari situ saya terinspirasi membuat cerita pendek.

Saya suka sekali menulis cerita di sebuah bloknot atau buku tulis sebelum mengenal blog. Apakah kebiasaan itu berlanjut terus? Enggak juga, saya sempat nggak menulis lama sekali dan akhirnya rindu untuk menulis lagi. Saking malasnya saya hanya cuap-cuap lewat status di media sosial dan lama-lama kok norak ya. 😀

Hingga akhirnya saya mulai suka backpacking dengan teman-teman kuliah, saya iseng kembali aktif menulis. Saya sih nggak membatasi mau menulis apa, hal terpenting adalah saya suka. Di kaskus network, saya pun iseng bikin field report mengenai perjalanan saya beberapa hari. Ya ke Bali, ya ke Jawa Tengah, ya keliling Blitar, ya cerita pendek, apapun lah. Tiap ada yang komen pasti bawaannya senang banget.

Eh, ndilalah, saya diterima bekerja di Yogyakarta begitu lulus kuliah –dan sempat jeda buat ngurus usaha pakaian bekas–, lha kok saya dikasih tantangan buat jadi content writer. Dari situ saya mulai banyak belajar tentang menulis, menulis, dan menulis. Bonusnya bisa belajar bagaimana merawat sebuah blog. Pelan tapi pasti saya mulai menemukan keasyikan dalam menulis, ternyata menulis bukan sekadar jadi salah satu cara untuk marketing online. Bagi saya, menulis bisa bikin kewarasan terjaga. Isi otak nggak boleh overload biar tetap bisa berpikir secara kreatif. Menguranginya adalah dengan cara menulis.

Kemudian di balik cerita menulis, menulis, dan menulis ini semesta mempertemukan saya dengan kawan-kawan baru. Ceritanya pun sangat tak dinyana.

 

Dari kiri ke kanan. Andhira, Rizky Almira, Tutut, dan Vera.
Dari kiri ke kanan. Andhira, Rizky Almira, Tutut, dan Vera.
Si Tutut

Kami sebelumnya tidak saling kenal. Suatu hari ketika saya masih berdomisili di Yogyakarta, tiba-tiba ada yang ingin membeli buku. Iya, saya memang penjual buku. Kalau nggak percaya, silakan intip lapak saya di sini. Ternyata si Tutut ini anak Blitar. Nah, ceritanya beberapa bulan kemudian saya resign dan memutuskan kembali ke Blitar. Eh, anak ini beli buku lagi di lapak saya.

Kami pun COD di KFC yang lokasinya memang ada di tengah kota Blitar. Usut punya usut dan lumayan bikin saya terkejut, si Tutut ini rupanya pacar dari teman sekelas saya pas SMP. Padahal ya, dia anak Kota dan saya anak Kabupaten. Kemungkinan untuk punya mutual friend itu sangat keciiiil. Kami pun akhirnya menjalin pertemanan, tidak hanya sebatas customer dan pemilik lapak.

Beberapa bulan kenal, ternyata si Tutut ini juga hobi menulis. Sayangnya, dia kurang berani eh.. apa ya, kurang percaya diri lebih tepatnya untuk berbagi tulisannya di media sosial. Saya mengamati gaya tulisannya lumayan enak untuk dibaca. Kalau penasaran dengan tulisannya, silakan cek instagram si Tutut.

Si Andhira

Gara-gara menulis dan dunia blog, saya pun kenal dengan Mas Pandu dan kadang ikut nongkrong di Ruang Tuang by Jelajah Blitar. Di sana, saya dikenalin dengan salah satu cewek yang katanya blogger juga dan suka banget kuliner oleh Mas Pandu. Namanya Andhira, anak Blitar Kota. Kesan pertama bertemu Dhira, dia anak yang kalem dan sepertinya usianya sebaya dengan saya.

Jeng…jeng… ternyata usianya jauuuh di bawah saya. Dia satu almamater kuliah, jurusan apa ya.. kok lupa. Fisioterapi ya, Dhir? Eh.. nggak tahu ding. Haha. Saya masih ingat, dia mantap nggak mau bekerja di Rumah Sakit dan memilih untuk berwirausaha sambil berkarya. Menurut saya, itu adalah keputusan yang paling berani sih dan dia sepertinya sudah siap dengan segala resikonya.

Pertama kali, kedua kali bertemu mungkin kami masih kikuk untuk ngobrol eh nggak tahunya setelah bertemu ketiga kali, keempat kali dan seterusnya obrolan kami seperti aliran sungai Berantas yang nggak ada ujungnya. Dia lagi rajin menulis di blog pribadinya, kalau ingin mengisi waktu luang boleh lho mampir di sini untuk baca-baca.

Si Vera

Saya scrolling feed instagram lalu melihat unggahan Andhira tentang kawan baru yang juga blogger dan sama-sama dari Blitar. Menatap foto kawannya itu, saya seperti de javu. Saya kayak pernah bertemu dengan perempuan yang berpose  sok ikrib sama Andhira (hehe, pisssss). Saya pun berusaha mengingat.

Ahaaa! Saya pun langsung skrinsyut unggahan Andhira dan meneruskannya ke Tutut.

“Ini teman kamu bukan sih?” tanya saya setelah mengirim screen capture ke Tutut.

“Iya, Mbak..” Jawabnya.

“Anak yang kamu ajak COD buku sama aku kan?”

Tutut pun membenarkannya. Astaga, Blitar begitu sempit ya. Mbulet banget. Kenal si A yang ternyata kenal dengan si B, si B temenan sama si C, sedangkan si C juga teman saya. Padahal saya bukan teman seangkatan mereka. Lho betul itu, usia saya jauh di atas mereka. Hadeeeh, ketahuan banget ya saya paling tuwir. 😦

Si Vera ini ternyata sudah lama aktif menulis, di blog pribadi dan jadi freelance contributor. Tulisannya bisa kamu nikmati di sini.

 

Kami pun berencana buat ngumpul dan berbagi tentang pengalaman menulis dan menertawakan pertemanan kami yang mbulet ini. Mulai pekan ini, kami sepakat untuk challenge menulis supaya termotivasi lebih rajin lagi menulis. Harapan saya sih, kami bisa seperti hamparan padi di sawah.

Tumbuh bersama. Berbagi bersama. Bermanfaat untuk sesama.

 

Tulisan ini untuk memenuhi tantangan #BloggerPerempuanBlitar
Baca juga:
- Tulisan Andhira Arum
- Tulisan Verwati Iriani

 

7 thoughts on “Alasan Saya Menulis, Menulis, dan Menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s