Mencari Inspirasi di Taman Bunga Selecta

Jenuh dengan rutinitas berangkat pagi-perpustakaan-kampus-pulang sore, ditambah dengan hiruk pikuknya Kota Surabaya membuatku ingin kabur sebentar. Penat membuat ideku buntu alias mampet. Langsung terlintas ide untuk menenangkan pikiran keluar kota. Sore itu aku menghubungi sepupu yang tinggal di Malang, meminta izin untuk menginap beberapa malam.

Keesokan hari, aku berangkat mengendarai motor seorang diri. Udara pagi yang masih segar malah membuatku semakin tidak sabar. Tak terasa perjalananku sudah sampai di Malang, sempat bingung harus kemana karena saat itu sepupu belum pulang kerja. Akhirnya aku berhenti di Perpustakaan Kota Batu, sekilas bangunannya tak nampak seperti perpustakaan. Seumur hidup, pertama kali ini aku mengunjungi perpustakaan kota yang tata ruangnya agak berantakan. Sayang sekali ya padahal perpustakaan adalah tempat yang harusnya ditata sedemikian rupa agar menarik pengunjung dan membuat pengunjung betah meluangkan waktu di sini. Perpustakaan adalah salah satu wadah untuk menambah wawasan kita. Aku berharap ada perbaikan dan perkembangan yang baik ke depannya.

Aku mengambil tempat duduk di salah satu sudut, membaca beberapa buku untuk membunuh waktu. Ternyata cukup banyak pengunjung yang datang saat hari semakin siang, membuat suasana tidak kikuk. Aku terus menikmati bacaan yang ada di hadapanku sembari mengetik tulisan satu dua halaman untuk tugas akhirku. Telepon dari sepupu menghentikan aktifitasku, aku segera bergegas menyusulnya di tempat yang telah kami sepakati.

Pergi ke Selecta adalah keinginanku sejak lama, aku mencoba mengajak sepupu untuk refreshing kesana tetapi ternyata sepupu punya urusan yang harus diselesaikan. Selecta membuatku semakin penasaran, akhirnya ku bulatkan tekad untuk kesana sendirian. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Saat menuju Selecta, aku belum sempat mandi, ini bukan karena aku malas, tidak sama sekali. Aku berniat untuk berenang di sana, lagian hawa dingin membuatku berpikir berulang kali untuk bolak-balik mandi. haha

Persiapan yang kurang matang membuatku (sedikit) kelabakan, untung ada toko kelontong jadi aku tidak malu membeli shampoo hanya dua sachet. hahaha . Aku sangat berterimakasih pada papan petunjuk yang ada di setiap persimpangan jalan, tanpa mereka aku tidak akan sampai di Selecta.

Selecta adalah kolam renang dan taman bunga yang sudah dibangun sejak jaman penjajahan Belanda, hal itu menjadikan Selecta sebagai salah satu objek wisata tertua di Kota Wisata Batu. Bangunannya masih asli dan klasik khas Eropa. Di Selecta juga ada pemandian air panas, tetapi hanya disediakan pagi dan sore hari.

Tidak jauh dari tempat parkir, aku disambut oleh akuarium dan kolam yang berisi banyak ikan air tawar. Ikan-ikan itu terlihat sudah biasa dengan pengunjung yang datang. Mereka cepat tanggap bila ada pengunjung yang terlihat akan menebar pelet (makanan khusus ikan). Ada beberapa rute yang bisa dilalui untuk menuju taman bunga, aku memilih untuk mengambil jalan pintas, menyusuri pinggir kolam renang dewasa dan anak-anak.

Aku merasa beruntung sekali saat berkunjung kesini, bunga di taman sedang mekar dan sangat cantik, itu karena aku berkunjung di bulan Oktober. Bunga-bunga di Selecta mekar dengan maksimal hanya di bulan tertentu, yaitu antara bulan September sampai bulan Desember.  

image

Bunga dan pohon berjajar rapi dan berwarna-warni, ditambah dengan cuaca pagi itu yang cerah membuat semuanya semakin elok. Aku mulai merasakan energi positif mengalir di tubuhku (hahahaha lebay!). Pikiranku serasa disegarkan kembali. Taman bunga yang sepi seakan jadi taman bunga pribadi. Aku dikejutkan oleh segerombolan lelaki yang meminta bantuan untuk memotret mereka.

“Boleh minta tolong buat motoin kita nggak?” pinta salah satu dari mereka.

“Boleh..boleh..” kataku sambil bersiap-siap membidik pose mereka.

“Makasih ya..jalan-jalan sendirian aja? Mau kita fotoin balik?” ucap lelaki yang kira-kira umurnya beberapa tahun lebih tua dariku.

“Enggak usah, makasih ya..” jawabku sambil melemparkan senyum.

Aku memisahkan diri dengan mereka setelah bertukar sapa. Sekilas aku mengamati canda tawa mereka dan duduk termenung di salah satu bangku taman. Aku merasa senang dapat menikmati semua keindahan yang ada di Selecta, tetapi entah kenapa tetap ada yang kurang. Ternyata yang kurang adalah kehadiran teman di perjalananku. Aku memang sering jalan sendirian dan kesendirian membuatku nyaman, tetapi tidak bisa dipungkiri kalau ternyata aku juga merindukan sosok teman jalan.

Di Selecta, tidak hanya pikiranku yang kembali segar, aku juga mendapat inspirasi dari pejalan lain bahwa kadang aku perlu teman jalan untuk berbagi di setiap perjalanan.

Keping Semangat di Bibir Kawah Bromo

Lega, gembira, dan terharu yang dirasa kala itu, akhirnya berhasil menuntaskan belajarku di bangku kuliah. Inilah hasil perjuanganku selama ini dan ingin mempersembahkannya hanya untuk Bapak dan Ibu. Masih melekat diingatan bagaimana caraku menyemangati diri sendiri saat aku mulai lelah dan ingin menyerah, aku berjanji untuk menghadiahi diriku sendiri setelah merampungkan tugas akhir.

Setelah resmi menyandang sarjana, aku mulai menyusun rencana. Beruntung sekali ada kawan yang bersedia menemani perjalananku kali ini, dia adalah teman satu kelas saat SMP. Musim hujan yang belum berganti tak membuat kami ragu untuk pergi ke kampung suku Tengger.

Perjalanan kami anti-mainstream, kami naik angkutan umum dari kota Malang, menumpang bus ekonomi dengan tarif Rp14.000,- dengan tujuan terminal Bayuangga, Probolinggo. Kelebihan dari naik angkutan umum adalah kita bisa menikmati pemandangan dan mengamati banyak orang lalu lalang di sepanjang jalan. Itu menjadi hiburan tersendiri saat aku mulai mengkhawatirkan apa saja yang akan terjadi di perjalananku.

Traveling membuat pemikiranku perlahan terbuka, aku sering bertemu dengan orang baru dari berbagai penjuru dan melatihku untuk tidak malu. Berawal dari sapaan kita dapat menghemat pengeluaran.Aku dan temanku join sewa mobil Jeep dengan orang yang baru kita kenal di angkot karena kami memiliki tujuan yang sama, yaitu meng-explore TN Bromo. Yeay! Setidaknya kami dapat menghemat sekian ratus ribu.

Lewat tengah malam ada ketukan pintu membangunkanku dari tidur, rupanya sopir Jeep telah datang untuk menjemput kami. Jeep yang kami tumpangi meliuk di setiap tikungan, melewati jalan yang diapit jurang, berlari lincah di lautan pasir membuat sensasi yang tak terlupakan. Begitu sampai di Penanjakan 1 kami disambut dengan keramaian pengunjung, sopir Jeep yang kami tumpangi agak kesusahan untuk mencari tempat parkir. Suasana itu membuat semangatku menurun, itulah alasanku menghindari traveling saat akhir pekan. Pejalan berjejalan, memadati di sepanjang anak tangga menuju Sunrise View Point. Sayang sekali, kabut enggan beranjak dan sedikit menghalangi mentari memamerkan keanggunannya. 

Tujuan kedua adalah kawah Bromo, aku dan temanku memilih untuk mengandalkan kaki sendiri saat pengunjung lain menunggangi kuda. Sungguh ironi saat mengamati mimik kuda yang terlihat letih, naik turun bukit membawa penumpang demi memenuhi kebutuhan ekonomi pemiliknya.

image

Pemandangan yang menakjubkan membakar semangatku untuk menapaki anak tangga untuk mencapai bibir kawah Bromo. Butuh perjuangan yang ekstra untuk sampai ke atas, oksigen yang semakin tipis dan bau belerang yang semakin menyengat membuat nafas semakin tersengal-sengal. Bimbang antara putar balik atau meneruskan jalan kaki ke atas.

image

Aku yakin, aku akan menyesal jika tidak nekat jalan kaki ke atas. Aku tidak akan bisa mengabadikan pemandangan yang ku pajang di atas. Begitu sampai, aku berhenti sejenak dan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sembari memandangi keindahan alam yang terpampang di depan mata.

Sesuatu yang indah tidak akan kita dapat dengan cara yang instan, tidak sekedar berjuang, yang tidak kalah penting adalah pantang menyerah untuk mewujudkan semua mimpi kita, karena aku ada di sini (TN. Gunung Bromo) juga berawal dari mimpi. 

Suka Duka Jadi Penumpang Kereta Api Ekonomi

“Naik kereta api tuutt…tuuuttt…tuuutt…siapa hendak turun.. ke Bandung, Surabaya…”

Bagi kalian yang lahir di tahun 90an pasti telinga kalian sudah akrab dengan lagu tersebut ya..

Kereta api merupakan salah satu alat transportasi massal dan sudah beroperasi di Indonesia sejak jaman kolonial, tetapi kita hanya bisa menjumpainya di pulau Jawa dan Sumatera. Sampai saat ini kereta api di Indonesia melayani rute dekat (lokal) sampai rute jauh (antar provinsi) dan gerbong penumpang kereta api dibagi menjadi 3 kelas yaitu; kelas I (Eksekutif), kelas II (Bisnis), kelas III (Ekonomi). Perbedaan masing-masing kelas yang paling mencolok selain tarif sekali jalan yaitu sarana atau fasilitas yang ada di dalam gerbong, mulai dari tempat duduk, kabin, bentuk jendela dan fasilitas tambahan lain.

Bagi yang gemar melakukan perjalanan (seperti saya) dan memiliki budget yang minim pasti pernah memilih kereta api ekonomi untuk menuju suatu tempat. Di samping tarif yang relatif terjangkau, ternyata alasan lain menggunakan transportasi umum ini ialah karena ingin santai agar dapat menikmati sebuah perjalanan. Kereta api dirasa lebih tepat waktu daripada memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum lain seperti bus atau jasa travel. Menurut saya, selalu ada cerita atau pengalaman saat naik kereta api ekonomi baik itu suka maupun duka. Nah, saya akan membahas dukanya dahulu, readers

  • Dukanya menjadi penumpang kereta api ekonomi

a. Fasilitas terbatas

Tarif tiket yang relatif murah jangan harap mendapatkan fasilitas yang wah. Tempat duduk di kereta api ekonomi jelas berbeda dengan tempat duduk yang ada di eksekutif ataupun bisnis. Tempat duduk berhadapan dan memiliki formasi 2-3 membuat ruang gerak penumpang sangat minim. Tempat duduknya pun tak se-empuk yang ada di gerbong kelas lain, apalagi mendapat fasilitas berupa selimut atau bantal gratis seperti di eksekutif. Di dalam gerbong juga tersedia terminal listrik (colokan) seperti gerbong di kelas lain, namun hanya tersedia 2 colokan di antara dua kursi, jadi harus bergantian dengan penumpang lain yang duduk di samping kita. Antri ya, jangan sampai rebutan. hehehe

b. Sering ngaret

Menurut saya, saat kita naik kereta api ekonomi dan jadwal berangkat-tiba sesuai dengan jadwal yang tertera di lembar tiket adalah suatu keberuntungan. Hal itu disebabkan jalur kereta api yang hanya satu dan digunakan secara bergantian. Maklum saja kalau kereta api ekonomi sering berhenti (mengalah) untuk menunggu dan mempersilahkan kereta api eksekutif atau bisnis mendahului. Selain itu karena kereta api ekonomi memiliki rute yang lebih banyak dari kelas lain, kereta ini lebih sering berhenti di stasiun kecil untuk menurunkan dan menaikkan penumpang, serta tidak bisa dipungkiri jika di tengah jalan salah satu gerbong atau lokomotif mengalami kerusakan akibat human error, hal teknis ini juga dapat menyebabkan molornya kereta tiba di stasiun tujuan.

c. Aroma yang… !@#$%^&

Fasilitas yang terbatas, pengharum yang ada di dalam gerbong mungkin juga terbatas jadi kadang aroma yang bersumber dari toilet umum di ujung gerbong tak dapat teratasi. Aroma yang menusuk dan mengganggu pernafasan alias bau. hahaha

Rasanya kurang adil jika saya hanya membahas dukanya saja, nah, berikut ini saya akan mengupas hal-hal yang menyenangkan saat kita menjadi penumpang kereta api ekonomi.

  • Sukanya jadi penumpang kereta api ekonomi

a. Murah meriah

Ini adalah poin nomer wahid yang masuk dalam pertimbangan memilih kereta api ekonomi dan tidak perlu saya jelaskan lagi.

b. Bertemu teman baru

Tempat duduk yang saling berhadapan membuat kita (mau tidak mau) berinteraksi atau sekedar basa-basi dengan penumpang lain yang memiliki berbagai macam karakter. Ada yang memiliki karakter yang sangat menyenangkan, menyenangkan, cukup menyenangkan, biasa saja, agak menjengkelkan, dan sangat menjengkelkan. Apabila bertemu penumpang lain yang asyik itu adalah suatu keberuntungan (lagi) karena membuat perjalanan kita terasa lebih singkat dan akhirnya (bisa) berteman sampai nanti, barangkali jadi juga (bisa) jadi teman akrab dan siapa tahu itu jodoh. hahaha

c. Melatih mental

Yap! Naik kereta api ekonomi melatih mental kita baik itu secara langsung maupun tidak secara langsung. Fisik terlatih jadi lebih tangguh, sigap dengan apapun yang terjadi selama di atas kereta. Melatih kita untuk tidak malu bertegur sapa dengan penumpang lain, apalagi kalau kita bepergian sendiri.

d. Melatih kesabaran

Ternyata ada hikmah yang dapat diambil dari molor-nya jadwal kereta api yaitu melatih kesabaran kita. Berlatih untuk tidak banyak mengeluh dan menikmati setiap momen.

Begitulah suka duka jadi penumpang kereta api ekonomi versi saya, bagi yang belum pernah naik kereta api ekonomi jangan takut untuk menjadi salah satu penumpangnya apalagi kalau masih muda. Mumpung masih muda, coba segala hal baru di sekitarmu. Jangan lupa berdoa di awal perjalananmu agar dapat sampai tempat tujuan dengan selamat 🙂

Pengalaman Pertama Naik KA Prameks

Sore itu saya menumpang KA Brantas dari Kediri dengan tujuan Semarang Poncol tetapi karena saya kadang begitu impulsif, saya memutuskan untuk turun di Solo Jebres. Pasukan ojek menyambut saya di pintu keluar, tanpa berpikir panjang saya langsung duduk manis di balik punggung salah satu tukang ojek.

“Ke Solo Balapan ya Pak… Ongkos e pinten?” (Ongkosnya berapa?) 

“Lima belas ribu aja…”

“Nggak boleh kurang lagi Pak?” saya mencoba menawar.

Rego biasane sak mono lho…” (Tarif biasanya segitu)

Nggih pun..” (ya sudah…)

Tukang ojek yang saya tumpangi langsung tancap gas tanpa memberi saya sebuah pengaman kepala alias helm, sempat khawatir jika ada polisi yang memergoki kami di persimpangan jalan karena kami tidak menjadi pengguna jalan yang baik.

Dengan lihainya ojek melipir dan memotong jalan raya seolah-olah jalan itu milik kakeknya (ngeri…). Ternyata jarak antara Solo Jebres dan Solo Balapan cukup jauh, menggunakan jasa ojek adalah pilihan tepat dibanding menggunakan jasa becak.

Saya berjalan menuju pintu masuk Solo Balapan dengan harap-harap cemas, pasalnya kereta api yang saya tumpangi mengalami keterlambatan sekitar 1 jam lebih dari jadwal seharusnya karena kerusakan salah satu gerbong penumpang, saya tiba di Solo Balapan kurang lebih pukul 18.30 WIB sedangkan jadwal KA Prameks pukul 18.55 WIB. Rasa cemas pecah begitu saya mendapati loket KA lokal masih melayani penjualan tiket KA Prameks.

“Tiket prameks tujuan Jogja mbak…” pinta saya kepada petugas loket.

“Untuk satu orang?” tanya petugas loket.

“Iya betul..”

“Terima kasih..” ucap saya sembari menerima secarik kertas kecil yang merupakan tiket KA Prameks.

image

Saya ikut membaur dengan penumpang lain yang sedang antri untuk boarding pass. Ini adalah pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di Solo Balapan dan menumpang KA Prameks. Saya tak begitu menikmati momen itu karena saya tergesa-gesa masuk ke dalam gerbong kereta. Saya merasa beruntung, hujan turun saat saya baru menempelkan pantat di bangku yang masih kosong. Sebelum kereta berangkat, saya menyempatkan untuk menikmati setiap sudut bangunan Solo Balapan dari balik jendela.

Kesan pertama naik KA Prameks adalah dingin, dingin ini disebabkan oleh AC kereta yang kebetulan berfungsi dengan baik (hehehe), kedua adalah bersih seperti naik kereta di luar negeri, dan yang terakhir adalah tepat waktu.

Tepat di hadapan saya ada penumpang yang sepertinya sebaya dengan bapak saya, Bapak itu menyandarkan kepala di jendela dan tertidur dengan pulas. Tanpa sadar saya juga menyandarkan kepala di jendela dan akhirnya semua gelap.

“ Mohon perhatian sebentar lagi KA Prameks akan tiba di Stasiun Lempuyangan…” suara petugas KA Prameks yang lantang sanggup membangunkan saya.

Akhirnya sampai juga di Yogyakarta 🙂

Ada apa saja ya di Kota Blitar?

Apakah ada yang belum tahu tentang Kota Blitar? Kota Blitar merupakan salah satu kota kecil yang berada di Provinsi Jawa Timur, daerahnya berbatasan dengan Malang, Kediri dan Tulungagung. Blitar memiliki wilayah yang tidak begitu luas, terdiri dari 3 kecamatan. Kota Blitar memiliki beberapa julukan yaitu kota Patria, kota Sang Proklamator, dan kota Pensiunan, Alasan Kota Blitar dijuluki kota Pensiunan karena tidak sedikit warga yang berusia produktif pergi merantau keluar daerah dan kembali saat sudah pensiun maka dari itu Blitar disebut sebagai kota Pensiunan. Kota Blitar belum memiliki Mall bahkan Plaza, tetapi menurut saya Blitar menyimpan segudang pesona. Ada apa saja ya di kota kecil seperti Blitar ini?

  • Kuliner

Blitar juga memiliki kuliner yang khas, salah satunya ialah pecel Blitar. Pecel Blitar ini terdiri dari nasi, sayur mayur yang telah direbus dan disiram dengan sambal pecel tidak lupa dengan lauk pauk seperti tahu goreng, tempe goreng dan rempeyek kacang atau kedelai. Pecel khas Blitar bila dilihat sepintas tidak memiliki perbedaan dengan pecel khas daerah lain seperti Kediri atau Madiun, Sambal pecelnya pun sama-sama terbuat dari kacang yang diolah dengan bumbu rempah pilihan. Cita rasa yang khas lah yang membuat pecel Blitar berbeda dari pecel daerah lain. Pecel begitu nikmat disantap saat masih hangat dan cocok untuk teman sarapan. Selain pecel, Blitar juga memiliki panganan yang unik yaitu wajik klethik. Wajik klethik diolah dari ketan yang dicampur dengan gula jawa dan bahan pelengkap lainnya, pengolahannya hampir mirip dodol. Dikemas dengan cara unik yaitu dibungkus menggunakan daun jagung kering. Selain itu juga ada buah-buahan yang biasa dibeli untuk buah tangan dari Blitar yaitu buah nanas, buah belimbing dan buah rambutan.

  • Wisata Sejarah

Kota Blitar menawarkan wisata sejarah, sangat berguna untuk kita yang ingin menambah wawasan tentang cerita lalu bangsa Indonesia. Tidak jauh dari pusat kota, terdapat makam Sang Proklamator Indonesia yaitu Ir.Soekarno atau yang lebih sering disapa Bung Karno. Konon, Bung Karno menghabiskan masa kecil sampai remaja di kota kecil ini. Makam Bungkarno berdampingan dengan makam kedua orangtuanya. Di kompleks makam Bung Karno terdapat Perpustakaan Bung Karno yang berisi koleksi buku umum yang cukup lengkap, di sebelah perpustakaan juga berdiri mini gallery yang merupakan gambaran singkat perjalanan hidup Bung Karno. Ada yang menarik perhatian pengunjung di tempat ini yaitu lukisan yang berdetak. Lukisan tersebut adalah sosok Bung Karno, di bagian dada Bung Karno bergetar berirama seperti detak jantung dan seolah-olah lukisan tersebut hidup seperti manusia umumnya. Jika diamati tidak ditemukan alat bantu untuk membuat efek detak jantung tersebut. Sekilas membuat pengunjung merinding dan mengkaitkan hal itu dengan mistis. Tidak jauh dari kompleks makam Bung Karno, ada istana Gebang. Tempat tersebut sebenarnya rumah lawas yang merupakan rumah kakak perempuan Bung Karno dan bernama Bu Wardhoyo. Di rumah Bu Wardhoyo lah Bung Karno sesekali menghabiskan masa liburannya saat remaja, Di sana terdapat foto-foto kenangan yang berjejer di penjuru dinding, kamar-kamar yang sempat dipakai Bung Karno untuk beristirahat. Koleksi barang peninggalan pun masih tersimpan dengan baik. Beberapa menit dari istana Gebang kita dapat menjumpai monumen PETA yang lokasinya berseberangan dengan tempat makam pahlawan kota Blitar. Setiap malam tanggal 13 Februari ada drama teaterikal di monumen tersebut, acara berlangsung khidmat sampai dini hari dan dihadiri oleh pelajar, seniman dan tokoh masyarakat. Acara tersebut semata-mata untuk memperingati pemberontakan PETA melawan penjajah di Blitar yang dipimpin oleh Sudanco Supriyadi.

Perjalanan ke Negeri di Atas Awan

Ini adalah pengalaman pertama saya menulis sebuah cerita perjalanan di akun Tumblr. Ceritanya semua serba mendadak, berawal dari keinginan untuk jalan-jalan ke dataran tinggi Diang yang belum juga terwujud. Saat itu travelmate (teman jalan yang saat itu tinggal di D.I. Yogyakarta) akan berulang tahun di pertengahan bulan September, jadi saya memiliki rencana untuk memberi kejutan yaitu tiba-tiba datang ke Yogya. Hahaha

Akomodasi dari Blitar menuju Yogyakarta relatif mudah, bisa ditempuh dengan berbagai cara salah satunya dengan menggunakan kereta api. Kita bisa membeli tiket kereta api dengan tarif yang paling murah sampai yang paling mahal. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli tiket kereta api Malioboro ekspress kelas ekonomi dengan alasan saya ingin menghemat waktu selama perjalanan karena saya memiliki segudang rencana. *evil laugh*

Sebelum sampai di Yogya, saya memberi tahu travelmate untuk packing. Dia sangat terkejut sampai bingung harus bilang apa. Pukul 3 sore saya tiba di Yogya tapi perjalanan belum cukup sampai di situ. Berdua dengan travelmate mengendarai motor matic dan bekal seadanya kami menuju Wonosobo. Lelah dan lapar menemani perjalanan kami, tapi semuanya hilang begitu kami menjumpai alun-alun Wonosobo. Gerimis dan dingin membuat kami semakin lapar dan akhirnya berhenti di warung tenda dekat alun-alun untuk menyantap nasi goreng dan nasi+ayam goreng. Waktu menunjukkan hampir pukul 9 malam tapi kami belum dapat penginapan, setelah berselancar sebentar di google, kami menginap di hotel Arjuna Wonosobo. Sekilas jika diamati bangunan hotel adalah bangunan tua tapi cukup nyaman untuk tempat beristirahat. Butuh tekad yang besar untuk mandi malam-malam di Wonosobo, airnya sedingin air kulkas. Sangat dingin bagi orang yang biasa tinggal di daerah pesisir pulau Jawa seperti saya.

Keesokan harinya, kami checkout siang hari dan tidak melewatkan kesempatan untuk mencicipi mie ongklok plus tempe kemul khas Wonosobo. Rasanya lezat tapi lebih nikmat jika disantap malam hari, sih. Setelah mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Dieng. Yeay!

Sesampainya di Dieng lagi-lagi kami bingung untuk menginap di mana, mondar-mandir mencari penginapan yang sekiranya ramah dengan kantong kami. Akhirnya menginap di penginapan Flamboyan. Sebelum senja datang, kami memanfaatkan waktu untuk menyambangi Telaga Warna Dieng, Kawah Sikidang dan yang terakhir kompleks Candi Arjuna. 

Hari makin sore hawa dingin makin menjadi, membuat kami tak punya nyali untuk mandi. Kami memutuskan untuk istirahat lebih cepat karena besok pagi ada rencana yang lebih hebat.

Alarm handphone berdering pukul 3 pagi, kami bergegas untuk pergi ke Sikunir. Wajib hukumnya membawa lampu senter dan penghangat badan tambahan seperti syal, sarung tangan atau kupluk. Sempat ragu selama di perjalanan menuju Sikunir antara takut nyasar dan takut dibegal karena saat itu keadaan jalan benar-benar sepi. Untunglah ada beberapa kendaraan yang lewat dan cukup terkejut saat sampai di area parkir, ternyata di sana sudah ramai pengunjung, mungkin karena saat itu weekend.

Kesalahan saya adalah kurang berolahraga sebelum melakukan perjalanan, hiking selama 15 menit membuat nafas saya tersengal-sengal. Tapi perjuangan yang saya lakukan setimpal dengan apa yang saya dapatkan di Puncak Sikunir, Golden Sunrise.

Saya merasa sangat beruntung dan berdoa agar diberi kesempatan untuk melakukan perjalanan lagi, tentunya perjalanan yang tidak kalah menyenangkan. Aamiin.