Mencari Inspirasi di Taman Bunga Selecta

Jenuh dengan rutinitas berangkat pagi-perpustakaan-kampus-pulang sore, ditambah dengan hiruk pikuknya Kota Surabaya membuatku ingin kabur sebentar. Penat membuat ideku buntu alias mampet. Langsung terlintas ide untuk menenangkan pikiran keluar kota. Sore itu aku menghubungi sepupu yang tinggal di Malang, meminta izin untuk menginap beberapa malam.

Keesokan hari, aku berangkat mengendarai motor seorang diri. Udara pagi yang masih segar malah membuatku semakin tidak sabar. Tak terasa perjalananku sudah sampai di Malang, sempat bingung harus kemana karena saat itu sepupu belum pulang kerja. Akhirnya aku berhenti di Perpustakaan Kota Batu, sekilas bangunannya tak nampak seperti perpustakaan. Seumur hidup, pertama kali ini aku mengunjungi perpustakaan kota yang tata ruangnya agak berantakan. Sayang sekali ya padahal perpustakaan adalah tempat yang harusnya ditata sedemikian rupa agar menarik pengunjung dan membuat pengunjung betah meluangkan waktu di sini. Perpustakaan adalah salah satu wadah untuk menambah wawasan kita. Aku berharap ada perbaikan dan perkembangan yang baik ke depannya.

Aku mengambil tempat duduk di salah satu sudut, membaca beberapa buku untuk membunuh waktu. Ternyata cukup banyak pengunjung yang datang saat hari semakin siang, membuat suasana tidak kikuk. Aku terus menikmati bacaan yang ada di hadapanku sembari mengetik tulisan satu dua halaman untuk tugas akhirku. Telepon dari sepupu menghentikan aktifitasku, aku segera bergegas menyusulnya di tempat yang telah kami sepakati.

Pergi ke Selecta adalah keinginanku sejak lama, aku mencoba mengajak sepupu untuk refreshing kesana tetapi ternyata sepupu punya urusan yang harus diselesaikan. Selecta membuatku semakin penasaran, akhirnya ku bulatkan tekad untuk kesana sendirian. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Saat menuju Selecta, aku belum sempat mandi, ini bukan karena aku malas, tidak sama sekali. Aku berniat untuk berenang di sana, lagian hawa dingin membuatku berpikir berulang kali untuk bolak-balik mandi. haha

Persiapan yang kurang matang membuatku (sedikit) kelabakan, untung ada toko kelontong jadi aku tidak malu membeli shampoo hanya dua sachet. hahaha . Aku sangat berterimakasih pada papan petunjuk yang ada di setiap persimpangan jalan, tanpa mereka aku tidak akan sampai di Selecta.

Selecta adalah kolam renang dan taman bunga yang sudah dibangun sejak jaman penjajahan Belanda, hal itu menjadikan Selecta sebagai salah satu objek wisata tertua di Kota Wisata Batu. Bangunannya masih asli dan klasik khas Eropa. Di Selecta juga ada pemandian air panas, tetapi hanya disediakan pagi dan sore hari.

Tidak jauh dari tempat parkir, aku disambut oleh akuarium dan kolam yang berisi banyak ikan air tawar. Ikan-ikan itu terlihat sudah biasa dengan pengunjung yang datang. Mereka cepat tanggap bila ada pengunjung yang terlihat akan menebar pelet (makanan khusus ikan). Ada beberapa rute yang bisa dilalui untuk menuju taman bunga, aku memilih untuk mengambil jalan pintas, menyusuri pinggir kolam renang dewasa dan anak-anak.

Aku merasa beruntung sekali saat berkunjung kesini, bunga di taman sedang mekar dan sangat cantik, itu karena aku berkunjung di bulan Oktober. Bunga-bunga di Selecta mekar dengan maksimal hanya di bulan tertentu, yaitu antara bulan September sampai bulan Desember.  

image

Bunga dan pohon berjajar rapi dan berwarna-warni, ditambah dengan cuaca pagi itu yang cerah membuat semuanya semakin elok. Aku mulai merasakan energi positif mengalir di tubuhku (hahahaha lebay!). Pikiranku serasa disegarkan kembali. Taman bunga yang sepi seakan jadi taman bunga pribadi. Aku dikejutkan oleh segerombolan lelaki yang meminta bantuan untuk memotret mereka.

“Boleh minta tolong buat motoin kita nggak?” pinta salah satu dari mereka.

“Boleh..boleh..” kataku sambil bersiap-siap membidik pose mereka.

“Makasih ya..jalan-jalan sendirian aja? Mau kita fotoin balik?” ucap lelaki yang kira-kira umurnya beberapa tahun lebih tua dariku.

“Enggak usah, makasih ya..” jawabku sambil melemparkan senyum.

Aku memisahkan diri dengan mereka setelah bertukar sapa. Sekilas aku mengamati canda tawa mereka dan duduk termenung di salah satu bangku taman. Aku merasa senang dapat menikmati semua keindahan yang ada di Selecta, tetapi entah kenapa tetap ada yang kurang. Ternyata yang kurang adalah kehadiran teman di perjalananku. Aku memang sering jalan sendirian dan kesendirian membuatku nyaman, tetapi tidak bisa dipungkiri kalau ternyata aku juga merindukan sosok teman jalan.

Di Selecta, tidak hanya pikiranku yang kembali segar, aku juga mendapat inspirasi dari pejalan lain bahwa kadang aku perlu teman jalan untuk berbagi di setiap perjalanan.